Mukadimah

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembukaan untuk Mengkaji dan Memahami Bacaan pada Rubrik Aliran-Aliran
09/26/2001 – Arsip Aliran Pemikiran

Untuk membaca rubrik aliran-aliran, alangkah baiknya jika didahului dengan membaca kajian berikut ini yang berisi tentang pemahaman sabda Rasulullah saw yang mengisyaratkan akan datangnya jaman penuh fitnah dan akan muncul banyaknya orang-orang yang membuat-buat agama dan kepercayaan baru. Dalam keadaan demikian, bagaimanakah sikap kita yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah?

MUKADIMAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan petunjuk kepada cahaya iman, Dien yang lurus, agama Islam, melalui hamba pilihan-Nya Muhammad saw. Dan yang telah meneguhkan hati para hamba-Nya yang teguh dalam memegang aqidah yang lurus. Shalawat dan salam teriring kepada teladan kita Rasulullah Muhammad saw, Nabi yang terakhir; juga kepada para keluarga dan para sahabatnya serta kaum Muslimin yang teguh mengikuti ajaran dan aqidahnya sampai akhir jaman, amin.

Berkembangnya gerakan (harakah) aliran-aliran sempelan di Indonesia yang telah tersebar luas di penjuru tanah air sudah sangat meresahkan masyarakat. Pengaruh ajarannya telah dapat mengubah gaya dan cara hidup (way of life) bagi pengikutnya. Gerakan mereka sangat halus dan pintar sehingga tidak semua orang dapat mengetahui, terlebih memahami bahwa pemahamannya bertentangan dengan pemahaman para ulama generasi salaf, yang merupakan generasi sebaik-baik ummat. Hanya dengan petunjuk, taufik, dan hidayah Allah SWT kita dapat menempuh jalan yang lurus.

Isyarat munculnya berbagai penyimpangan dan munculnya aliran-aliran menyesatkan telah disabdakan oleh Rasulullah saw, “Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka.” (Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari).

“Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata, Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian aku akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang sahabat bertanya, “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah saw bersabda, “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama, apabila mereka mengerjakan agama dengan pendapat pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah saw telah mengabarkan kepada kita bahwa di masa kemudian akan ada peperangan (baik perang mulut, perang pemikiran, maupun perang fisik) yang terjadi di kalangan orang-orang yang beriman. Hal ini karena di antara ummat ini sebagiannya ada yang mengadakan dan mengikuti bid’ah yang sebelumnya dalam agama tidak diajarkan. Dari sinilah terjadinya perbedaan-perbedaan dalam satu agama. Akan tetapi, tidak semua perbedaan-perbedaan itu dilarang dalam agama. Perbedaan dalam Islam dibolehkan dalam hal yang bersifat cabang atau (furu’), yaitu masalah-masalah fiqiyah yang rumit-rumit yang di dalamnya terjadi perbedaan penafsiran di kalangan para ulama. Adapun perbedaan yang dilarang adalah perbedaan dalam hal pokok (ushul), yaitu perbedaan dalam memahami masalah-masalah aqidah pada umumnya, serta pemahaman masalah hukum-hukum Islam yang telah jelas, dan menjadi kesepakatan para ulama (jumhur ulama).

Perbedaan pendapat di dalam Islam dapat dipahami dengan mudah seperti contoh yang kami berikan berikut ini:
Secara umum perbedaan pendapat di dalam Islam ada dua macam, yaitu:

Perbedaan pendapat yang dapat mengakibatkan perpecahan, yaitu perbedaan dalam hal ushul (masalah pokok, yaitu masalah aqidah).
Perbedaan pendapat yang tidak mengakibatkan perpecahan, yaitu perbedaan dalam hal furu’ (masalah cabang, yaitu masalah fiqiyah).

Contoh dari perbedaan pendapat yang dapat mengakibatkan perpecahan.

Misalnya keyakinan tentang AL-QUR’AN. Pemahaman yang benar menurut pemahaman para ulama salaf adalah bahwa Al-Qur’an itu kalamullah, bukan makhluk. Jadi, jika ada yang berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, itu adalah keyakinan yang menyimpang.

Misalnya lagi, keyakinan tentang SIAPAKAH NABI DAN RASUL TERAKHIR. Jawaban dan keyakinan yang benar adalah bahwa Muhammad saw adalah penutup para nabi dan rasul. Jika ada yang berkeyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad ada nabi lagi, seperti golongan AHMADIYAH yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad dari India adalah sebagai nabinya, maka itu adalah keyakinan yang menyimpang.

Misalnya lagi, keyakinan tentang MENGHUKUMI KAFIR TERHADAP ORANG LAIN. Jawaban dan keyakinan yang benar adalah bahwa orang kafir yang akan kekal di dalam neraka adalah orang yang tidak meyakini (dengan hati, lisan, perbuatan) akan LAA ILAAHAILLALOOH dan yang murtad keluar dari Islam. Apabila ada golongan atau aliran yang menuduh selain alirannya adalah kafir tanpa alasan yang jelas, seperti keyakinan jama’ah LDII dan yang sejenisnya, maka keyakinan seperti itu adalah telah jelas menyimpang.

Misalnya lagi, keyakinan tentang SHALAT WAJIB LIMA WAKTU. Keyakinan yang benar adalah bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib, setelah syareat ini disampaikan oleh Allah kepada Rasulullah saw dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Jika ada aliran yang menyatakan bahwa shalat lima waktu untuk saat ini tidak wajib, dengan berbagai alasan, seperti aliran Al-ZAYTUN yang pesantrennya sangat megah di Indramayu itu, maka keyakinan semacam itu telah jelas menyimpang. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

Contoh perbedaan pendapat yang tidak mengakibatkan perpecahan.

Misalnya tentang masalah ADZAN DALAM KHUTBAH JUM’AT. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam pada saat mendirikan shalat Jum’at: ada yang adzannya hanya sekali, ada yang dua kali. Ini adalah perbedaan pendapat karena historis dan interpretasi yang berbeda. Perbedaan semacam ini tidak bisa menjadikan alasan satu pihak terhadap pihak lainnya menuduh sebagai aliran sesat. Inilah yang dimaksud perbedaan pendapat yang tidak dilarang.

Misalnya lagi, tentang masalah JUMLAH REKAAT DALAM SHALAT TARAWIH. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam pada saat mendirikan shalat Tarawih: ada yang 11 rekaat, ada yang 23 rekaat. Ini juga perbedaan pendapat yang tidak mengakibatkan perpecahan. Perbedaan semacam ini tidak bisa dijadikan alsan salah satu pihak menuduh kepada pihak lain sebagai aliran sesat. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

Inilah beberapa contoh sederhana yang kami kemukanan yang mungkin dapat memudahkan para pembaca untuk memahami perbedaan pendapat di dalam Islam. Dalam hal perbedaan pendapat yang terakhir kami sebutkan, yaitu perbedaan pendapat dalam hal furu’ (cabang), maka salah satu pihak tidak dibenarkan mengklaim bahwa hanya pendapatnya sendirilah yang benar dan yang lain dianggap salah, atau menyatakan sesat kepada pihak lain yang berbeda pemahaman, terlebih lagi menuduh pendapat lain sebagai kafir. Adapun pada perbedaan pendapat pada hal yang ushul (pokok), maka dibenarkan untuk menyatakan bahwa pendapat dari firqah yang lain yang bertentangan dengan pemahaman atau keyakinan kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah pendapat yang menyesatkan dan bahkan dapat menjurus kepada kekafiran.

Ijtihad ulama dalam masalah hukum itu seperti ijtihadnya orang yang mencari arah Ka’bah. Bila empat orang shalat dan setiap orang menghadap ke suatu arah yang ia yakini sebagai arah kiblat, maka shalat keempat orang itu sah dan benar. Orang yang shalat menghadap Ka’bah dengan tepat hanya satu dan dialah yang mendapatkan dua pahala (pernah dituturkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

Sedangkan perbedaan seseorang di dalam menempuh jalan yang benar, beragama dengan aqidah yang lurus, diibaratkan sebagai orang yang mencari Ka’bah di hamparan bumi yang datar. Keempat orang yang shalat dengan menghadap kepada arahnya masing-masing, meyakini arahnya benar menuju Ka’bah, maka yang jalannya menuju kearah yang benar hanya satu, dialah yang akan menemukan Ka’bahnya. Sedangkan yang lainnya, masing-masing yang satu berlawanan dan yang dua menyimpang, maka mereka tidak akan menemukannya, bahkan semakin jauh meninggalkannya.

Demikian halnya dengan keyakinan yang telah benar-benar jauh menyimpang dalam hal-hal prinsip, maka keyakinan semacam itu termasuk golongan atau firqah sempalan. Aliran sempalan sekarang telah banyak bermunculan di seluruh penjuru dunia: dari Timur sampai ke Barat, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, dapat dilihat dalam banyak aliran, seperti: Ahmadiah dari India, Jamus (Jama’ah Muslimin) dari Cilengsi Bogor, LK (Lembaga Karasulan), Isa Bugis, Syi’ah, kemudian LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) dan masih banyak lagi aliran-aliran yang menyimpang.

Di dalam aliran sempalan seperti ini banyak dijumpai pemahaman agama yang menyimpang karena mereka memahami agama dengan sekehendak para pimpinan atau para pendiri-pendirinya, dengan cara mengambil dalil-dalil yang sesuai dan diartikan sekehendak mereka. Mereka mempelajari ilmu tidak melalui jalur-jalur ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, bahkan di antara mereka terdapat aliran yang mengharamkan mempelajari ilmu di luar alirannya. Mereka benar-benar memiliki cara atau teknik yang dapat menjaring orang-orang awam serta dengan rapi dapat pula membungkam para jama’ahnya melalui dogma-dogma yang diajarkannya.

Telah kita ketahui bersama datangnya jaman penuh dengan fitnah, yaitu meraja lelanya aliran-aliran sempalan yang merupakan firqah baru dalam jama’ah kaum muslimin. Oleh karena itu, kami mengajak kepada diri kami dan juga kepada Saudara-Saudara sekalian, tetaplah berpegang teguh dengan keimanan dan prinsip aqidah yang lurus, yang mengikuti jejak para ulama yang lurus pula sesuai pemahaman generasi Salafus Shalih yang selalu mengikuti petunjuk Sunnah Rasul dan menetapi kewajiban bertakwa kepada Allah SWT.

Lantas bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai seorang Muslim, yang mengaku mengikuti Sunnah Rasulullah saw?

Allah SWT berfirman yang artinya, “…dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).” (QS Al-An’aam: 153). Seorang tokoh tabi’in dan ahli tafsir, Abu Al-Hajjaj Mujahid bin Jabar Al-Makki, berkata, “Jalan-jalan yang dimaksud dalam firman Allah tersebut adalah jalan-jalan bid’ah dan syubhat.”

“Dari Al-Irbadh bin Suriyah ra berkata, Rasulullah saw pernah bersabda, “Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu takut kepada Allah dan mendengarkan serta patuh, sekalipun kepada bangsa Habsy, karena sesungguhnya orang yang hidup antara kamu sekalian di kemudian aku, maka akan melihat perselisihan yang banyak; maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khulafah yang menetapi petunjuk yang benar; hendaklah kamu pegang teguh akan dia dan kamu gigitlah dengan geraham-geraham gigi, dan kamu jauhilah akan perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang baru diadakan itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad)

Allah SWT berfirman, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS An-Nisaa’: 59)

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari ummatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, “Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnahnya.”) “Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Maka orang-orang yang memerangi mereka dengan lidahnya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.” (HR. Imam Muslim)

Nabi saw telah bersabda, “Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid’ah sesudah aku (Rasulullah saw) tiada, maka tunjukkanlah sikap menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan tentang mereka dan kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin merusak (citra) Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bid’ah mereka. Dengan demikian, Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat.” (HR. Ath-Thahawi)

Kita telah diajarkan untuk tidak berlemah lembut kepada kelompok aliran yang menyimpang dan menyesatkan, dan jika ingin mencari keutamaan, salah satunya adalah berdakwah dengan menjelaskan penyimpangan ajaran orang-orang yang telah membuat keyakinan baru agar orang-orang mengetahuinya.

Sesungguhnya setiap muslim harus memprioritaskan husnudhan (prasangka baik) kepada sesama muslim, dan juga di dalam mensifati orang lain harus adil. Akan tetapi, tidaklah semua keadaan disikapi demikian, ada keadaan perkecualian, sebagaimana dicontohkan seperti kisah sbb:
“Dikatakan kepada Nabi saw: “Ya Rasulullah, sesungguhnya fulanah menegakkan shalat lail, berpuasa di siang harinya, beramal dan bersedekah (tetapi) ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Bersabda Rasulullah saw, “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka.” Berkata (perawi), “Sedangkan fulanah (yang lain) melakukan shalat maktubah dan bersedekah dengan benaja kecil (tetapi) dia tidak menyakiti seseorang pun.” Maka bersabda Rasulullah saw, “Dia termasuk ahli surga.”
(Silsilah Hadits As-Shahihah, no. 190).

Dalam hal ini, kata-kata Nabi “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka” (padahal orang yang dikatakannya adalah orang yang rajin mengerjakan syareat) adalah kata-kata yang berupa lontaran cerca. Kemudian terhadap perbuatan orang yang kedua, Nabi saw hanya menyebut kebaikannya tanpa menyinggung kejelekannya.

Allah SWT juga mengisahkan Abu Lahab dan isterinya dengan lima ayat dalam Al-Qur’an yang isinya kejelekan semuanya, padahal keduanya (sedikit atau banyak) juga mempunyai kebaikan, bahkan Abu Lahab termasuk tokoh yang dihormati dan disegani di kalangan Quraisy.

Maka dalam membicarakan kebaikan dan keburukan orang atau golongan, ada perkecualiannya. Adapun perkecualian itu secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua keadaan, yaitu:

DALAM RANGKA NASEHAT DAN PERINGATAN UMMAT
Pada keadaan ini, ketika menyebutkan keburukan seseorang/golongan, tidak ada keharusan untuk menyebutkan kebaikannya. Bahkan yang demikian itu cukup menyebutkan keburukannya saja, misalnya membicarakan ahli bid’ah: seperti LDII, aliran yang banyak sekali penyimpangannya, di antaranya mengada-adakan syareat dengan mengharuskan setiap orang harus berbai’at kepada imam jama’ahnya; jika tidak, maka kafir.

DALAM RANGKA MENJELASKAN ATAU MENGISAHKAN SESUATU
Dalam keadaan ini, menyebutkan kebaikan dan keburukan orang atau golongan tertentu secara bersamaan diperbolehkan, selama tidak menimbulkan madlarat, misalnya saja menyebutkan sifat seorang perawi hadits.

Adapun mengenai perincian ghibah (membicarakan kejelekan orang lain) yang diperbolehkan, Imam Nawawi dalam kitab dan juz yang sama hlm. 142-143 mengatakan, “Akan tetapi ghibah itu diperbolehkan karena enam sebab.” Di antaranya dua telah disebutkan di atas.

Allah SWT telah berfirman bahwa Dia-lah yang menjaga Al-Qur’an (agama ini) sampai waktu yang dikehendaki-Nya. Allah menjaganya melalui hamba-hamba yang beriman yang teguh di dalam mengikuti jejak dan ajaran Rasulullah saw.

Rasulullah saw telah menjamin akan adanya segolongan umat yang tetap atas kebenaran hingga hari kiyamat. Rasulullah saw telah bersabda, “Akan ada segolongan dari umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu.”
(HR. Imam Bukhari)

“Akan tetapi ada dari kalangan ummatku sekelompok orang yang terus-menerus menjelaskan dan menyampaikan kebenaran, sehingga orang yang ingin menghinakan tidak akan mendatangkan mudharat bagi mereka sampai datang putusan Allah (hari Kiamat).” (HR. Imam Muslim)
Ummat tersebut adalah ummat yang telah disebut di atas, golongan yang masih mengikuti Sunnah-Sunnah Rasulullah saw. Itulah ummat yang akan selamat yaitu golonganAhli Sunnah wal Jama’ah.

Kepada Saudara-Saudara sekalian, termasuk siapa saja yang masih merasa bingung dan ragu karena telah mengikuti pengajian suatu aliran, hendaknya janganlah langsung menerima dan meyakini doktrin-doktrin dari aliran sempalan yang pemahamannya bersimpangan jauh dengan para ulama yang lurus. Hati-hatilah dalam mengambil pemahaman ilmu-ilmu keagamaan: jangan sampai membawa ember untuk menimba air di selokan yang keruh dan kotor.

Lebih amannya, untuk mencari kebenaran atau menjaga aqidah yang lurus itu, hendaklah kita selalu berdo’a dengan ikhlas mencari kebenaran yang sejati. Allah Maha memberi petunjuk kepada hambanya. Tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya siapa yang Allah tunjuki jalan yang lurus. Tiada pula yang dapat menunjukkan jalan yang lurus, siapa yang Allah sesatkan jalannya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk dan semoga kita termasuk orang yang ditunjukkan dan menempuh jalan yang lurus dengan taufik dan hidayah-Nya, amin.

Di dalam rubrik ini terdapat kajian-kajian yang berisi tentang FIRQAH atau ALIRAN-ALIRAN SEMPALAN dan paham-paham lainnya yang pada umumnya membahayakan kemurnian ajaran dan nilai-nilai Islam.

Selamat mengkaji, semoga bermanfaat bagi Saudara….

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Published in: on October 6, 2007 at 8:55 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://miqrosoft.wordpress.com/2007/10/06/mukadimah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: