Umar Bin Khatab

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
oleh Michael H. Hart
——————————————————————————–

51 `UMAR IBN AL-KHATTAB ± 586-644
Sebuah mesjid di Kairo diberi nama “Mesjid Umar ibn al-Khattab”

`Umar Ibn al-Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun-586.

Asal-muasalnya `Umar Ibn al-Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas, menentang Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. (Ini ada persamaannya yang menarik dengan ihwal St. Paul terhadap Kristen). `Umar Ibn al-Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.

Tahun 632 Muhammad wafat, tanpa menunjuk penggantinya. Umar dengan cepat mendukung Abu Bakr sebagai pengganti, seorang kawan dekat Nabi dan juga mertua beliau. Langkah ini mencegah ada kekuatan dan memungkinkan Abu Bakr secara umum diakui sebagai khalifah pertama, semacam “pengganti” Nabi Muhammad. Abu Bakar merupakan pemimpin yang berhasil tetapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi, Abu Bakr menunjuk `Umar jadi khalifah tahun 634 dan memegang kekuasaan hingga tahun 644 tatkala dia terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. Di atas tempat tidur menjelang wafatnya, `Umar menunjuk sebuah panita terdiri dari enam orang untuk memilih penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu kekuatan untuk kekuasaan terjauh. Panitia enam orang itu menunjuk `Uthman selaku khalifah ke-3 yang memerintah tahun 644-656.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun `Umar itulah penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tak lama sesudah `Umar pegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum `Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan `Umar. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu: pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya `Umar di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala `Umar wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukan `Umar adalah kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya. Iran, kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di-Arabkan hingga saat kini.

`Umar sudah barangtentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang Arab punya hak-hak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kota-kota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. Penduduk setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa memeluk Agama Islam. Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih bersifat perang penaklukan nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek agama bukannya tidak memainkan peranan.

Keberhasilan `Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan dibawah pemerintahannya tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Muhammadlah penggerak utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi, akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham peranan `Umar. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan `Umar yang brilian.

Memang akan merupakan kejutan –buat orang Barat yang tidak begitu mengenal `Umar– membaca penempatan orang ini lebih tinggi dari pada orang-orang kenamaan seperti Charlemagne atau Julius Caesar dalam urutan daftar buku ini. Soalnya, penaklukan oleh bangsa Arab di bawah pimpinan `Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.

Published in: on October 9, 2007 at 3:17 am Leave a Comment

Imam Bukhori

Imam Bukhori

Sumber dari segala sumber hukum yang utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain sebagai sumber hukum, Al-Qur’an dan As-Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang universal. Isyarat sampai kepada ilmu yg mutakhir telah tercantum di dalamnya. Oleh karenanya siapa yang ingin mendalaminya, maka tidak akan ada habis-habisnya keajaibannya.

Untuk mengetahui As-Sunnah atau hadits-hadits Nabi, maka salah satu dari beberapa bagian penting yang tidak kalah menariknya untuk diketahui adalah mengetahui profil atau sejarah orang-orang yang mengumpulkan hadits, yang dengan jasa-jasa mereka kita yang hidup pada jaman sekarang ini dapat dengan mudah memperoleh sumber hukum secara lengkap dan sistematis serta dapat melaksanakan atau meneladani kehidupan Rasulullah untuk beribadah seperti yang dicontohkannya.

Abad ketiga Hijriah merupakan kurun waktu terbaik untuk menyusun atau menghimpun Hadits Nabi di dunia Islam. waktu itulah hidup enam penghimpun ternama Hadits Sahih yaitu:

Imam Bukhari

Imam Muslim

Imam Abu Daud

Imam Tirmizi

Imam Nasa’i

Imam Ibn Majah

Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Karena itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”

Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.

Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan takwa. Diceritakan, bahwa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun uang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahwa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak heran jika ia lahir dan mewrisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.

Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata: “Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.” Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididikl oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.

Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadits. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya.

Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma karena tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua karena Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami’as-Sahih dan pendahuluannya.

Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahwa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya.

Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahwa ia pernah berkata: “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya karena menetap di negeri Khurasan.

Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadits-hadits dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadits dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadits sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.

Kemasyuran Imam Bukhari segera mencapai bagian dunia Islam yang jauh, dan kemanapun ia pergi selalu di elu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatanya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya.

Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Sahih Muslim menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail dating ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, seebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadits secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.”

Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk.” Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: “Barang siapa berpendapat lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’a.” Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari perbah berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akherat kelak, insya Allah.” Demikian juga ia pernah berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”

Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: “Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini.” Oleh karena Imam Bukhari berpendapat bahwa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut.

Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majelis pengajian dan pengajaran hadits.

Tetapi kemudian badai fitnah dating lagi. Kali ini badai itu dating dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami’ al-Sahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahwa “Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majelis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahwa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu.” Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alas an untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara.

Imam Bukhari, kemudian mendo’akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.

Imam Bukhari tidak saja mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya tulisnya yang terpenting, Sahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo’a sebelum menulis buku itu. Sebagian buku tersebut ditulisnya di samping makan Nabi di Madinah.

Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadits muridnya ini: “Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.”

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya.

Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.

Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahwa dia menyatakan: “Aku menulis hadits yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadits dan berpendirian bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.” Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang haditsnya diriwayatkan dalam kitab Sahih-nya sebanyak 289 orang guru.

Karena kemasyurannya sebagai seorang alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan mendengar langsung haditsnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahwa kitab Sahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmizi, Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma’qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyur sebagai perawi kitab Sahih Bukhari.

Dalam bidang kekuatan hafalan, ketajaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadits, juga dalam bidang ilat-ilat hadits, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadits lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadits di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadits sahih, dan 200.000 hadits yang tidak sahih.”

Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadits di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadits, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadits ini diberi sanad hadits lain dan sanad hadits lain dinbuat untuk matan hadits yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadits yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadits kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadits, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadits yang Anda sebutkan ini.” Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahwa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: “Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya.”

Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: “Hadits pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadits kedua isnadnya yang benar adalah beginii…” Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadits. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadits-hadits yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai “Imam” dalam bidang hadits.

Sebagian hadirin memberikan komentar terhadap “uji coba kemampuan” yang menegangkan ini, ia berkata: “Yang mengagumkan, bukanlah karena Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadits yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali.”Jadi banyak pemirsa yang heran dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadits secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa.

Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi’in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadits sahabat dan tabi’in, yakni hadits-hadits mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW.”

Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : “Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadits dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma’il al-Bukhari.”

Imam al-A’immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadits, yang melebihi Muhammad bin Isma’il.” Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma’il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Irak yang melebihi kealimannya.”

Al-Hakim menceriakan, dengan sanad lengkap. Bahwa Muslim (pengarang kitab Sahih), dating kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: “Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadits dan dokter ahli penyakit (ilat) hadits.” Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi.”

Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: “Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: “Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya.” Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: “Haditsnya diingkari.”

Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadits yang diriwayatkan seseorang hanya karena orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ia berkata: “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan.”

Selain dikenal sebagai ahli hadits, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada derajat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi’i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan ‘Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadits yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadits, bukan sebagai ahli fiqh.

Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Diunul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahwa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka.

Diantara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :

Al-Jami’ as-Sahih (Sahih Bukhari).

Al-Adab al-Mufrad.

At-Tarikh as-Sagir.

At-Tarikh al-Awsat.

At-Tarikh al-Kabir.

At-Tafsir al-Kabir.

Al-Musnad al-Kabir.

Kitab al-’Ilal.

Raf’ul-Yadain fis-Salah.

Birril-Walidain.

Kitab al-Asyribah.

Al-Qira’ah Khalf al-Imam.

Kitab ad-Du’afa.

Asami as-Sahabah.

Kitab al-Kuna.

Sekilas Tentang Kitab AL-JAMI’ AS-SAHIH (Sahih Bukhari)

Diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ as-Sahih.”

Dalam menghimpun hadits-hadits sahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan kesahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling sahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.” Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahwa ia mendengar Muhammad bin Isma’il al-Bukhari berkata: “Aku susun kitab Al-Jami’ as-Sahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadits pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar sahih.”

Maksud pernyataan itu ialah bahwa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadits-hadits dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun.

Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Karenanya tidak mengherankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai “Buku Hadits Nabi yang Paling Sahih.”

Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari berkata: “Tidaklah kumasukkan ke dalam kitab Al-Jami’as-Sahih ini kecuali hadits-hadits yang sahih; dan kutinggalkan banyak hadits sahih karena khawatir membosankan.”

Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahwa Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab, seperti hadits mutabi dan hadits syahid, dan hadits-hadits yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in.

Jumlah Hadits Kitab Al-Jami’as-Sahih (Sahih Bukhari)

Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahwa jumlah hadits Sahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib.

Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Sahih Bukhari, menyebutkan, bahwa semua hadits sahih mawsil yang termuat dalam Sahih Bukhari tanpa hadits yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadits. Sedangkan matan hadits yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadits sahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadits. Semua hadits Sahih Bukhari termasuk hadits yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 344 buah hadits. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadits. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya.

Published in: on October 6, 2007 at 9:12 am Leave a Comment

SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
(1115 – 1206 H/1701 – 1793 M)

Nama Lengkapnya

Beliau Adalah Syeikh Al-Islam Al-Imam Muhammad Bin `Abdul Wahab Bin Sulaiman Bin Ali Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Rasyid Bin Barid Bin Muhammad Bin Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hambali An-Najdi.

Tempat Dan Tarikh Lahirnya

Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Dilahirkan Pada Tahun 1115 H (1701 M) Di Kampung `Uyainah (Najd), Lebih Kurang 70 Km Arah Barat Laut Kota Riyadh, Ibukota Arab Saudi Sekarang.

Beliau Meninggal Dunia Pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) Dalam Usia 92 Tahun, Setelah Mengabdikan Diri Selama Lebih 46 Tahun Dalam Memangku Jawatan Sebagai Menteri Penerangan Kerajaan Arab Saudi .

Pendidikan Dan Pengalamannya

Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Berkembang Dan Dibesarkan Dalam Kalangan Keluarga Terpelajar. Ayahnya Adalah Ketua Jabatan Agama Setempat. Sedangkan Kakeknya Adalah Seorang Qadhi (Mufti Besar), Tempat Di Mana Masyarakat Najd Menanyakan Segala Sesuatu Masalah Yang Bersangkutan Dengan Agama. Oleh Karena Itu, Kita Tidaklah Hairan Apabila Kelak Beliau Juga Menjadi Seorang Ulama Besar Seperti Datuknya.

Sebagaimana Lazimnya Keluarga Ulama, Maka Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Sejak Masih Kanak-Kanak Telah Dididik Dan Ditempa Jiwanya Dengan Pendidikan Agama, Yang Diajar Sendiri Oleh Ayahnya, Syeikh `Abdul Wahhab.

Sejak Kecil Lagi Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Sudah Kelihatan Tanda-Tanda Kecerdasannya. Beliau Tidak Suka Membuang Masa Dengan Sia- Sia Seperti Kebiasaan Tingkah Laku Kebanyakan Kanak-Kanak Lain Yang Sebaya Dengannya.

Berkat Bimbingan Kedua Ibu-Bapaknya, Ditambah Dengan Kecerdasan Otak Dan Kerajinannya, Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Telah Berjaya Menghafal Al-Qur’an 30 Juz Sebelum Berusia Sepuluh Tahun.

Setelah Beliau Belajar Pada Orantuanya Tentang Beberapa Bidang Pengajian Dasar Yang Meliputi Bahasa Dan Agama, Beliau Diserahkan Oleh Ibu-Bapaknya Kepada Para Ulama Setempat Sebelum Dikirim Oleh Ibu- Bapaknya Ke Luar Daerah.

Tentang Ketajaman Fikirannya, Saudaranya Sulaiman Bin `Abdul Wahab Pernah Menceritakan Begini:

“Bahwa Ayah Mereka, Syeikh `Abdul Wahab Merasa Sangat Kagum Atas Kecerdasan Muhammad, Padahal Ia Masih Di Bawah Umur. Beliau Berkata: `Sungguh Aku Telah Banyak Mengambil Manfaat Dari Ilmu Pengetahuan Anakku Muhammad, Terutama Di Bidang Ilmu Fiqh.’ “

Syeikh Muhammad Mempunyai Daya Kecerdasan Dan Ingatan Yang Kuat, Sehingga Apa Saja Yang Dipelajarinya Dapat Difahaminya Dengan Cepat Sekali, Kemudian Apa Yang Telah Dihafalnya Tidak Mudah Pula Hilang Dalam Ingatannya. Demikianlah Keadaannya, Sehingga Kawan-Kawan
Sepermainannya Kagum Dan Heran Kepadanya.

Belajar Di Makkah, Madinah Dan Basrah

Setelah Mencapai Usia Dewasa, Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Diajak Oleh Ayahnya Untuk Bersama-Sama Pergi Ke Tanah Suci Mekah Untuk Menunaikan Rukun Islam Yang Kelima – Mengerjakan Haji Di Baitullah. Dan Manakala Telah Selesai Menunaikan Ibadah Haji, Ayahnya Terus Kembali Ke Kampung Halamannya. Adapun Muhammad, Ia Tidak Pulang, Tetapi Terus Tinggal Di Mekah Selama Beberapa Waktu, Kemudian Berpindah Pula Ke Madinah Untuk Melanjutkan Pengajiannya Di Sana.

Di Madinah, Beliau Berguru Pada Dua Orang Ulama Besar Dan Termasyhur Di Waktu Itu. Kedua-Dua Ulama Tersebut Sangat Berjasa Dalam Membentuk Pemikirannya, Yaitu Syeikh Abdullah Bin Ibrahim Bin Saif An-Najdi Dan Syeikh Muhammad Hayah Al-Sindi.

Selama Berada Di Madinah, Beliau Sangat Prihatin Menyaksikan Ramai Umat Islam Setempat Maupun Penziarah Dari Luar Kota Madinah Yang Telah Melakukan Perbuatan-Perbuatan Tidak Kesyirikan Dan Tidak Sepatutnya Dilakukan Oleh Orang Yang Mengaku Dirinya Muslim.

Beliau Melihat Ramai Umat Yang Berziarah Ke Maqam Nabi Mahupun Ke Maqam-Maqam Lainnya Untuk Memohon Syafaat, Bahkan Meminta Sesuatu Hajat Pada Kuburan Mahupun Penghuninya, Yang Mana Hal Ini Sama Sekali Tidak Dibenarkan Oleh Agama Islam. Apa Yang Disaksikannya Itu Menurut Syeikh Muhammad Adalah Sangat Bertentangan Dengan Ajaran Islam Yang Sebenarnya.

Kesemua Inilah Yang Semakin Mendorong Syeikh Muhammad Untuk Lebih Mendalami Pengkajiannya Tentang Ilmu Ketauhidan Yang Murni, Yakni Aqidah Salafiyah. Bersamaan Dengan Itu Beliau Berjanji Pada Dirinya Sendiri, Bahwa Pada Suatu Ketika Nanti, Beliau Akan Mengadakan Perbaikan (Islah) Dan Pembaharuan (Tajdid) Dalam Masalah Yang Berkaitan Dengan Ketauhidan, Yaitu Mengembalikan Aqidah Umat Kepada Sebersih-Bersihnya Tauhid Yang Jauh Dari Khurafat, Tahyul Dan Bid’ah. Untuk Itu, Beliau Mesti Mendalami Benar-Benar Tentang Aqidah Ini Melalui Kitab-Kitab Hasil Karya Ulama-Ulama Besar Di Abad-Abad Yang Silam.

Di Antara Karya-Karya Ulama Terdahulu Yang Paling Terkesan Dalam Jiwanya Adalah Karya-Karya Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau Adalah Mujaddid Besar Abad Ke 7 Hijriyah Yang Sangat Terkenal.

Demikianlah Meresapnya Pengaruh Dan Gaya Ibnu Taimiyah Dalam Jiwanya, Sehingga Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Bagaikan Duplikat(Salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya Dalam Aspek Ketauhidan, Seakan-Akan Semua Yang Diidam-Idamkan Oleh Ibnu Taimiyah Semasa Hidupnya Yang Penuh Ranjau Dan Tekanan Dari Pihak Berkuasa, Semuanya Telah Ditebus Dengan Kejayaan Ibnu `Abdul Wahab Yang Hidup Pada Abad Ke 12 Hijriyah Itu.

Setelah Beberapa Lama Menetap Di Mekah Dan Madinah, Kemudian Beliau Berpindah Ke Basrah. Di Sini Beliau Bermukim Lebih Lama, Sehingga Banyak Ilmu-Ilmu Yang Diperolehinya, Terutaman Di Bidang Hadith Danmusthalahnya, Fiqh Dan Usul Fiqhnya, Gramatika (Ilmu Qawa’id) Dan
Tidak Ketinggalan Pula Lughatnya Semua.

Lengkaplah Sudah Ilmu Yang Diperlukan Oleh Seorang Yang Pintar Yang Kemudian Dikembangkan Sendiri Melalui Metode Otodidak (Belajar Sendiri) Sebagaimana Lazimnya Para Ulama Besar Islam Mengembangkan Ilmu-Ilmunya. Di Mana Bimbingan Guru Hanyalah Sebagai Modal Dasar Yang Selanjutnya Untuk Dapat Dikembangkan Dan Digali Sendiri Oleh
Yang Bersangkutan.

Mulai Berdakwah

Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Memulai Dakwahnya Di Basrah, Tempat Di Mana Beliau Bermukim Untuk Menuntut Ilmu Ketika Itu. Akan Tetapi Dakwahnya Di Sana Kurang Bersinar, Karena Menemui Banyak Rintangan Dan Halangan Dari Kalangan Para Ulama Setempat.

Di Antara Pendukung Dakwahnya Di Kota Basrah Ialah Seorang Ulama Yang Bernama Syeikh Muhammad Al-Majmu’i. Tetapi Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Bersama Pendukungnya Mendapat Tekanan Dan Ancaman Dari Sebagian Ulama Yang Sesat, Yaitu Ulama Jahat Yang Memusuhi Dakwahnya Di Sana; Keduanya Diancam Akan Dibunuh. Akhirnya Beliau Meninggalkan Basrah Dan Mengembara Ke Beberapa Negeri Islam Untuk Menyebarkan Ilmu Dan
Pengalamannya.

Di Samping Mempelajari Keadaan Negeri-Negeri Islam Tetangga, Demi Kepentingan Dakwahnya Di Masa Akan Datang, Dan Setelah Menjelajahi Beberapa Negeri Islam, Beliau Lalu Kembali Ke Al-Ihsa Menemui Gurunya Syeikh Abdullah Bin `Abd Latif Al-Ihsai Untuk Mendalami Beberapa
Bidang Pengajian Tertentu Yang Selama Ini Belum Sempat Didalaminya.

Di Sana Beliau Bermukim Untuk Beberapa Waktu, Dan Kemudian Beliau Kembali Ke Kampung Asalnya ‘Uyainah, Tetapi Tidak Lama Kemudian Beliau Menyusul Orang Tuanya Yang Merupakan Bekas Ketua Jabatan Urusan Agama ‘Uyainah Ke Haryamla, Yaitu Suatu Tempat Di Daerah
Uyainah Juga.

Adalah Dikatakan Bahwa Di Antara Orang Tua Syeikh Muhammad Dan Pihak Berkuasa Uyainah Berlaku Perselisihan Pendapat, Yang Oleh Karena Itulah Orang Tua Syeikh Muhammad Terpaksa Berhijrah Ke Haryamla Pada Tahun 1139 H.

Setelah Perpindahan Ayahnya Ke Haryamla Kira-Kira Setahun, Barulah Syeikh Muhammad Menyusulnya Pada Tahun 1140 H. Kemudian, Beliau Bersama Ayahnya Itu Mengembangkan Ilmu Dan Mengajar Serta Berdakwah Selama Lebih Kurang 13 Tahun Lamanya, Sehingga Ayahnya Meninggal Dunia Di Sana Pada Tahun 1153.

Setelah Tiga Belas Tahun Menegakkan Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar Di Haryamla, Beliau Mengajak Pihak Penguasa Setempat Untuk Bertindak Tegas Terhadap Gerombolan Penjahat Yang Selalu Melakukan Kerusuhan, Merampas, Merampok Serta Melakukan Pembunuhan. Maka Gerombolan Tersebut Tidak Senang Kepada Syeikh Muhammad, Lalu Mereka Mengancam Hendak Membunuhnya. Syeikh Muhammad Terpaksa Meninggalkan Haryamla, Berhijrah Ke Uyainah Tempat Ayahnya Dan Beliau Sendiri Dilahirkan.

KEADAAN NEGERI NAJD, HIJAZ DAN SEKITARNYA

KEADAAN Negeri Najd, Hijaz Dan Sekitarnya Semasa Awal Pergerakan Tauhid Amatlah Buruknya. Krisis Aqidah Dan Akhlak Serta Merosotnya Tata Nilai Sosial, Ekonomi Dan Politik Sudah Mencapai Titik Kulminasi. Semua Itu Adalah Akibat Penjajahan Bangsa Turki Yang
Berpanjangan Terhadap Bangsa Dan Jazirah Arab, Di Mana Tanah Najd Dan Hijaz Adalah Termasuk Jajahannya, Di Bawah Penguasaan Sultan Muhammad Ali Pasya Yang Dilantik Oleh Khalifah Di Turki (Istanbul) Sebagai Gubenur Jenderal Untuk Daerah Koloni Di Kawasan Timur Tengah, Yang Berkedudukan Di Mesir.

Pemerintahan Turki Raya Pada Waktu Itu Mempunyai Daerah Kekuasaan Yang Cukup Luas. Pemerintahannya Berpusat Di Istanbul (Turki), Yang Begitu Jauh Dari Daerah Jajahannya. Kekuasaan Dan Pengendalian Khalifah Mahupun Sultan-Sultannya Untuk Daerah Yang Jauh Dari Pusat, Sudah Mulai Lemah Dan Kendur Disebabkan Oleh Kekacauan Di Dalam Negeri Dan Kelemahan Di Pihak Khalifah Dan Para Sultannya.

Disamping Itu, Adanya Cita-Cita Dari Amir-Amir Di Negeri Arab Untuk Melepaskan Diri Dari Kekuasaan Pemerintah Pusat Yang Berkedudukan Di Turki. Ditambah Lagi Dengan Hasutan Dari Bangsa Barat, Terutama Penjajah Tua Yaitu Inggris Dan Perancis Yang Menghasut Bangsa Arab
Dan Umat Islam Supaya Berjuang Merebut Kemerdekaan Dari Bangsa Turki, Hal Mana Sebenarnya Hanyalah Tipudaya Untuk Memudahkan Kaum Penjajah Tersebut Menanamkan Pengaruhnya Di Kawasan Itu, Kemudian Mencengkeramkan Kuku Penjajahannya Di Dalam Segala Lapangan, Seperti Politik, Ekonomi, Kebudayaan Dan Aqidah.

Kemerosotan Dari Sektor Agama, Terutama Yang Menyangkut Aqidah Sudah Begitu Memuncak. Kebudayaan Jahiliyah Dahulu Seperti Taqarrub (Mendekatkan Diri) Pada Kuburan (Maqam) Keramat, Memohon Syafaat Dan Meminta Berkat Serta Meminta Diampuni Dosa Dan Disampaikan Hajat, Sudah Menjadi Ibadah Mereka Yang Paling Utama Sekali, Sedangkan Ibadah-Ibadah Menurut Syariat Yang Sebenarnya Pula Dijadikan Perkara Kedua. Di Mana Ada Maqam Wali, Orang-Orang Soleh, Penuh Dibanjiri Oleh Penziarah-Penziarah Untuk Meminta Sesuatu Hajat Keperluannya. Seperti Misalnya Pada Maqam Syeikh Abdul Qadir Jailani, Dan Maqam-Maqam Wali Lainnya. Hal Ini Terjadi Bukan Hanya Di Tanah Arab Saja, Tetapi Juga Di Mana-Mana, Di Seluruh Pelosok Dunia Sehingga Suasana Di Negeri Islam Waktu Itu Seolah-Olah Sudah Berbalik Menjadi
Jahiliyah Seperti Pada Waktu Pra Islam Menjelang Kebangkitan Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat Muslim Lebih Banyak Berziarah Ke Kuburan Atau Maqam-Maqam Keramat Dengan Segala Macam Munajat Dan Tawasul, Serta Pelbagai Doa Dialamatkan Kepada Maqam Dan Mayat Didalamnya, Dibandingkan Dengan Mereka Yang Datang Ke Masjid Untuk Solat Dan Munajat Kepada Allah SWT. Demikianlah Kebodohan Umat Islam Hampir Merata Di Seluruh Negeri, Sehingga Di Mana-Mana Maqam Yang Dianggap Keramat, Maqam Itu Dibina Bagaikan Bangunan Masjid, Malah Lebih Mewah Daripada Masjid, Karena Dengan Mudah Saja Dana Mengalir Dari Mana-Mana, Terutama Biaya Yang Diperolehi Dari Setiap Pengunjung Yang Berziarah Ke Sana, Atau Memang Adanya Tajaan Dari Orang Yang Membiayainya Di Belakang Tabir, Dengan Maksud-Maksud Tertentu. Seperti Dari Imperalis Inggris Yang Berdiri Di Belakang Tabir Maqam Syeikh Abdul Qadir Jailani Di India Misalnya.

Di Tengah-Tengah Keadaan Yang Sedemikian Rupa, Maka Allah Melahirkan Seorang Mujadid Besar (Pembaharu Besar) Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab (Al-Wahabi) Dari `Uyainah (Najd) Sebagai Mujaddid Islam Terbesar Abad Ke 12 Hijriyah, Setelah Ibnu Taimiyah, Mujaddid Abad Ke
7 Hijriyah Yang Sangat Terkenal Itu.

Bidang Pentajdidan Kedua Mujaddid Besar Ini Adalah Sama, Yaitu Mengadakan Pentajdidan Dalam Aspek Aqidah, Walau Masanya Berbeda, Yaitu Kedua-Duanya Tampil Untuk Memperbaharui Agama Islam Yang Sudah Mulai Tercemar Dengan Bid’ah, Khurafat Dan Tahyul Yang Sedang Melanda Islam Dan Kaum Muslimin. Menghadapi Hal Ini Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Telah Menyusun Barisan Ahli Tauhid (Muwahhidin) Yang Berpegang Kepada Pemurnian Tauhid. Bagi Para Lawannya, Pergerakan Ini Mereka Sebut Wahabiyin Yaitu Gerakan Wahabiyah.

Dalam Pergerakan Tersebut Tidak Sedikit Rintangan Dan Halangan Yang Dilalui. Kadangkala Syeikh Terpaksa Melakukan Tindakan Kekerasan Apabila Tidak Boleh Dengan Cara Yang Lembut. Tujuannya Tidak Lain Melainkan Untuk Mengembalikan Islam Kepada Kedudukannya Yang Sebenarnya, Yaitu Dengan Memurnikan Kembali Aqidah Umat Islam Seperti Yang Diajarkan Oleh Kitab Allah Dan Sunnah Rasulnya.

Setelah Perjuangan Yang Tidak Mengenal Lelah Itu, Akhirnya Niat Yang Ikhlas Itu Diterima Oleh Allah, Sesuai Dengan Firmannya: ” Wahai Orang-Orang Yang Beriman, Jika Kamu Menolong Allah Nescaya Allah Akan Menolongmu Dan Menetapkan Pendirianmu. ” (Muhammad: 7)

Awal Pergerakan Tauhid

Muhammad Bin `Abdul Wahab Memulakan Pergerakan Di Kampungnya Sendiri Yaitu Uyainah. Di Waktu Itu Uyainah Diperintah Oleh Seorang Amir (Penguasa) Bernama Amir Uthman Bin Mu’ammar. Amir Uthman Menyambut Baik Idea Dan Gagasan Syeikh Muhammad Itu Dengan Sangat Gembira, Dan Beliau Berjanji Akan Menolong Perjuangan Tersebut Sehingga Mencapai Kejayaan.

Selama Syeikh Melancarkan Dakwahnya Di Uyainah, Masyarakat Negeri Itu Semua Lelaki Dan Wanita Merasakan Kembali Kedamaian Luar Biasa, Yang Selama Ini Belum Pernah Mereka Rasakan. Dakwah Syeikh Bergema Di Negeri Mereka. Ukhuwah Islamiyah Dan Persaudaraan Islam Telah Tumbuh Kembali Berkat Dakwahnya Di Seluruh Pelusuk Uyainah Dan Sekitarnya.
Orang-Orang Dari Jauh Pun Mula Mengalir Berhijrah Ke Uyainah, Karena Mereka Menginginkan Keamanan Dan Ketenteraman Jiwa Di Negeri Ini.

Syahdan; Pada Suatu Hari, Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Meminta Izin Pada Amir Uthman Untuk Menghancurkan Sebuah Bangunan Yang Dibina Di Atas Maqam Zaid Bin Al-Khattab. Zaid Bin Al-Khattab Adalah Saudara Kandung Umar Bin Al-Khattab, Khalifah Rasulullah Yang Kedua. Syeikh Muhammad Mengemukakan Alasannya Kepada Amir, Bahwa Menurut Hadith
Rasulullah SAW, Membina Sesebuah Bangunan Di Atas Kubur Adalah Dilarang, Karena Yang Demikian Itu Akan Menjurus Kepada Kemusyrikan. Amir Menjawab: “Silakan… Tidak Ada Seorang Pun Yang Boleh Menghalang Rancangan Yang Mulia Ini.”

Tetapi Syeikh Mengajukan Pendapat Bahwa Beliau Khuatir Masalah Itu Kelak Akan Dihalang-Halangi Oleh Ahli Jahiliyah(Kaum Badwi) Yang Tinggal Berdekatan Maqam Tersebut. Lalu Amir Menyediakan 600 Orang Tentara Untuk Tujuan Tersebut Bersama-Sama Syeikh Muhammad Merobohkan Maqam Yang Dikeramatkan Itu.

Sebenarnya Apa Yang Mereka Sebut Sebagai Maqam Zaid Bin Al-Khattab R.A Yang Gugur Sebagai Syuhada’ Yamamah Ketika Menumpaskan Gerakan Nabi Palsu (Musailamah Al-Kazzab) Di Negeri Yamamah Suatu Waktu Dulu, Hanyalah Berdasarkan Prasangka Belaka. Karena Di Sana Terdapat Puluhan Syuhada’ (Pahlawan) Yamamah Yang Dikebumikan Tanpa Jelas Lagi
Pengenalan Mereka.

Bisa Saja Yang Mereka Anggap Maqam Zaid Bin Al-Khattab Itu Adalah Maqam Orang Lain. Tetapi Oleh Karena Masyarakat Setempat Di Situ Telah Terlanjur Beranggapan Bahwa Itulah Maqam Beliau, Mereka Pun Mengkeramatkannya Dan Membina Sebuah Masjid Di Tempat Itu, Yang
Kemudian Dihancurkan Pula Oleh Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Atas Bantuan Amir Uyainah, Uthman Bin Mu’ammar.

Syeikh Muhammad Tidak Berhenti Sampai Disitu, Akan Tetapi Semua Maqam- Maqam Yang Dipandang Berbahaya Bagi Aqidah Ketauhidan, Yang Dibina Seperti Masjid Yang Pada Ketika Itu Berselerak Di Seluruh Wilayah Uyainah Turut Diratakan Semuanya. Hal Ini Adalah Untuk Mencegah Agar Jangan Sampai Dijadikan Objek Peribadatan Oleh Masyarakat Islam Setempat Yang Sudah Mulai Nyata Kejahiliahan Dalam Diri Mereka. Dan Berkat Rahmat Allah, Maka Pusat-Pusat Kemusyrikan Di Negeri Uyainah Dewasa Itu Telah Terkikis Habis Sama Sekali.

Setelah Selesai Dari Masalah Tauhid, Maka Syeikh Mulai Menerangkan Dan Mengajarkan Hukum-Hukum Syariat Yang Sudah Berabad-Abad Hanya Termaktub Saja Dalam Buku-Buku Fiqh, Tetapi Tidak Pernah Diterapkan Sebagai Hukum Yang Diamalkan. Maka Yang Dilaksanakannya Mula-Mula
Sekali Ialah Hukum Rajam Bagi Penzina.

Pada Suatu Hari Datanglah Seorang Wanita Yang Mengaku Dirinya Berzina Ke Hadapan Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab, Dia Meminta Agar Dirinya Dijatui Hukuman Yang Sesuai Dengan Hukum Allah Dan Rasulnya. Meskipun Syeikh Mengharapkan Agar Wanita Itu Menarik Balik
Pengakuannya Itu, Supaya Ia Tidak Terkena Hukum Rajam, Namun Wanita Tersebut Tetap Bertahan Dengan Pengakuannya Tadi, Ia Ingin Menjalani Hukum Rajam. Maka, Terpaksalah Syeikh Menjatuhkan Kepadanya Hukuman Rajam Atas Dasar Pengakuan Wanita Tersebut.

Berita Tentang Kejayaan Syeikh Dalam Memurnikan Masyarakat Uyainah Dan Penerapan Hukum Rajam Kepada Orang Yang Berzina, Sudah Tersebar Luas Di Kalangan Masyarakat Uyainah Mahupun Di Luar Uyainah.

Masyarakat Uyainah Dan Sekelilingnya Menilai Gerakan Syeikh Ibnu `Abdul Wahab Ini Sebagai Suatu Perkara Yang Mendatangkan Kebaikan. Namun, Beberapa Kalangan Tertentu Menilai Pergerakan Syeikh Muhammad Itu Sebagai Suatu Perkara Yang Negatif Dan Membahayakan Kedudukan Mereka. Memang, Hal Ini Sama Keadaannya Dimanapun Di Saat Tersebut, Bahkan Pergerakan Pembaharuan Tersebut Dipandang Rawan Bagi Penentangnya. Hal Tersebut Seperti Halnya Untuk Mengislamkan Masyarakat Islam Yang Sudah Kembali Ke Jahiliyah Ini, Yaitu, Dengan Cara Mengembalikan Mereka Kepada Aqidah Salafiyah Seperti Di Zaman Nabi, Para Sahabat Dan Para Tabi’in Dahulu.

Di Antara Yang Menentangnya Dakwah Tersebut Adalah Amir (Pihak Berkuasa) Wilayah Al-Ihsa’ (Suku Badwi) Dengan Para Pengikut- Pengikutnya Dari Bani Khalid Sulaiman Bin Ari’ar Al-Khalidi. Mereka Adalah Suku Badui Yang Terkenal Berhati Keras, Suka Merampas, Merampok Dan Membunuh. Pihak Berkuasa Al-Ihsa’ Khuatir Kalau Pergerakan Syeikh Muhammad Tidak Dipatahkan Secepat Mungkin, Sudah Pasti Wilayah Kekuasaannya Nanti Akan Direbut Oleh Pergerakan Tersebut. Padahal Amir Ini Sangat Takut Dijatuhkan Hukum Islam Seperti Yang Telah Diperlakukan Di Negeri Uyainah. Dan Tentunya Yang Lebih Ditakutinya Lagi Ialah Kehilangan Kedudukannya Sebagai Amir (Ketua) Suku Badui.

Maka Amir Badui Ini Menulis Sepucuk Surat Kepada Amir Uyainah Yang Isinya Mengancam Pihak Berkuasa Uyainah. Adapun Isi Ancaman Tersebut Ialah: “Apabila Amir Uthman Tetap Membiarkan Dan Mengizinkan Syeikh Muhammad Terus Berdakwah Dan Bertempat Tinggal Di Wilayahnya, Serta Tidak Mau Membunuh Syeikh Muhammad, Maka Semua Pajak Dan Upeti Wilayah Badui Yang Selama Ini Dibayar Kepada Amir Uthman Akan Diputuskan (Ketika Itu Wilayah Badwi Tunduk Dibawah Kekuasaan Pemerintahan Uyainah).” Jadi, Amir Uthman Dipaksa Untuk Memilih Dua
Pilihan, Membunuh Syeikh Atau Suku Badui Itu Menghentikan Pembayaran Upeti.

Ancaman Ini Amat Mempengaruhi Pikiran Amir Uthman, Karena Upeti Dari Wilayah Badui Sangat Besar Artinya Baginya. Adapun Upeti Tersebut Adalah Terdiri Dari Emas Murni.

Didesak Oleh Tuntutan Tersebut, Terpaksalah Amir Uyainah Memanggil Syeikh Muhammad Untuk Diajak Berunding Bagaimanakah Mencari Jalan Keluar Dari Ancaman Tersebut. Soalnya, Dari Pihak Amir Uthman Tidak Pernah Sedikit Pun Terfikir Untuk Mengusir Syeikh Muhammad Dari
Uyainah, Apalagi Untuk Membunuhnya. Tetapi, Sebaliknya Dari Pihaknya Juga Tidak Terdaya Menangkis Serangan Pihak Suku Badui Itu.

Maka, Amir Uthman Meminta Kepada Syeikh Muhammad Supaya Dalam Hal Ini Demi Keselamatan Bersama Dan Untuk Menghindari Dari Terjadinya Pertumpahan Darah, Sebaiknya Syeikh Bersedia Mengalah Untuk Meninggalkan Negeri Uyainah. Syeikh Muhammad Menjawab Seperti
Berikut: “Wahai Amir! Sebenarnya Apa Yang Aku Sampaikan Dari Dakwahku, Tidak Lain Adalah DINULLAH (Agama Allah), Dalam Rangka Melaksanakan Kandungan LA ILAHA ILLALLAH – Tiada Tuhan Melainkan Allah, Muhammad Rasulullah.

Maka Barangsiapa Berpegang Teguh Pada Agama Dan Membantu Pengembangannya Dengan Ikhlas Dan Yakin, Pasti Allah Akan Mengulurkan Bantuan Dan Pertolongannya Kepada Orang Itu, Dan Allah Akan Membantunya Untuk Dapat Menguasai Negeri-Negeri Musuhnya. Saya
Berharap Kepada Anda Amir Supaya Bersabar Dan Tetap Berpegang Terhadap Pegangan Kita Bersama Terlebih Dahulu, Untuk Sama-Sama Berjuang Demi Tegaknya Kembali Dinullah Di Negeri Ini. Mohon Sekali Lagi Amir Menerima Ajakan Ini. Mudah-Mudahan Allah Akan Memberi
Pertolongan Kepada Anda Dan Menjaga Anda Dari Ancaman Badui Itu, Begitu Juga Dengan Musuh-Musuh Anda Yang Lainnya. Dan Allah Akan Memberi Kekuatan Kepada Anda Untuk Melawan Mereka Agar Anda Dapat Mengambil Alih Daerah Badui Untuk Sepenuhnya Menjadi Daerah Uyainah Di Bawah Kekuasaan Anda.”

Setelah Bertukar Fikiran Di Antara Syeikh Dan Amir Uthman, Tampaknya Pihak Amir Tetap Pada Pendiriannya, Yaitu Mengharapkan Agar Syeikh Meninggalkan Uyainah Secepat Mungkin.

Dalam Bukunya Yang Berjudul Al-Imam Muhammad Bin `Abdul Wahab, Wada’ Watahu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad Bin `Abdul `Aziz Bin `Abdullah Bin Baz, Beliau Berkata: “Demi Menghindari Pertumpahan Darah, Dan Karena Tidak Ada Lagi Pilihan Lain, Di Samping Beberapa Pertimbangan Lainnya Maka Terpaksalah Syeikh Meninggalkan Negeri Uyainah Menuju Negeri
Dar’iyah Dengan Menempuh Perjalanan Secara Berjalan Kaki Seorang Diri Tanpa Ditemani Oleh Seorangpun. Beliau Meninggalkan Negeri Uyainah Pada Waktu Dinihari, Dan Sampai Ke Negeri Dar’iyah Pada Waktu Malam Hari.” (Ibnu Baz, Syeikh `Abdul `Aziz Bin `Abdullah, M.S 22)

Tetapi Ada Juga Tulisan Lainnya Yang Mengatakan Bahwa: Pada Mulanya Syeikh Muhammad Mendapat Dukungan Penuh Dari Pemerintah Negeri Uyainah Amir Uthman Bin Mu’ammar, Namun Setelah Api Pergerakan Dinyalakan, Pemerintah Setempat Mengundurkan Diri Dari Percaturan
Pergerakan Karena Alasan Politik (Besar Kemungkinan Takut Dipecat Dari Kedudukannya Sebagai Amir Uyainah Oleh Pihak Atasannya). Dengan Demikian, Tinggallah Syeikh Muhammad Dengan Beberapa Orang Sahabatnya Yang Setia Untuk Meneruskan Dakwahnya. Dan Beberapa Hari Kemudian, Syeikh Muhammad Diusir Keluar Dari Negeri Itu Oleh Pemerintahnya.

Bersamaan Dengan Itu, Pihak Berkuasa Telah Merencanakan Pembunuhan Ke Atas Diri Syeikh Di Dalam Perjalanannya, Namun Allah Mempunyai Rencana Sendiri Untuk Menyelamatkan Syeikh Dari Usaha Pembunuhan, Wamakaru Wamakarallalu Wallahu Khairul Makirin. Mereka Mempunyai Rencana Dan Allah Mempunyai Rencananya Juga, Dan Allah Sebaik-Baik Pembuat Rencana. Sehingga Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Selamat Di Perjalanannya Sampai Ke Negeri Tujuannya, Yaitu Negeri Dar’iyah.

Syeikh Muhammad Di Dar’iyah

Sesampainya Syeikh Muhammad Di Sebuah Kampung Wilayah Dar’iyah, Yang Tidak Berapa Jauh Dari Tempat Kediaman Amir Muhammad Bin Saud (Pemerintah Negeri Dar’iyah), Syeikh Menemui Seorang Penduduk Di Kampung Itu, Orang Tersebut Bernama Muhammad Bin Sulaim Al-`Arini.
Bin Sulaim Ini Adalah Seorang Yang Dikenal Soleh Oleh Masyarakat Setempat.

Syeikh Meminta Izin Untuk Tinggal Bermalam Di Rumahnya Sebelum Ia Meneruskan Perjalanannya Ke Tempat Lain.

Pada Mulanya Ia Ragu-Ragu Menerima Syeikh Di Rumahnya, Karena Suasana Dar’iyah Dan Sekelilingnya Pada Waktu Itu Tidak Tenteram, Menyebabkan Setiap Tamu Yang Datang Hendaklah Melaporkan Diri Kepada Pihak Berkuasa Setempat. Namun, Setelah Syeikh Memperkenalkan
Dirinya Serta Menjelaskan Maksud Dan Tujuannya Datang Ke Negeri Dar’iyah, Yaitu Hendak Menyebarkan Dakwah Islamiyah Dan Membenteras Kemusyrikan, Barulah Muhammad Bin Sulaim Ingin Menerimanya Sebagai Tamu Di Rumahnya.

Sesuai Dengan Peraturan Yang Wujud Di Dar’iyah Di Kala Itu, Yang Mana Setiap Tetamu Hendaklah Melaporkan Diri Kepada Pihak Berkuasa Setempat, Maka Muhammad Bin Sulaim Menemui Amir Muhammad Untuk Melaporkan Tamunya Yang Baru Tiba Dari Uyainah Dengan Menjelaskan Maksud Dan Tujuannya Kepada Beliau.

Kononnya, Ada Riwayat Yang Mengatakan; Bahwa Seorang Soleh Datang Menemui Isteri Amir Ibnu Saud, Ia Berpesan Untuk Menyampaikan Kepada Suaminya, Bahwa Ada Seorang Ulama Dari Uyainah Yang Bernama Muhammad Bin `Abdul Wahab Hendak Menetap Di Negerinya. Beliau Hendak Menyampaikan Dakwah Islamiyah Dan Mengajak Masyarakat Kepada Sebersih-
Bersih Tauhid. Ia Meminta Agar Isteri Amir Ibnu Saud Membujuk Suaminya Supaya Menerima Ulama Tersebut Agar Dapat Menjadi Warga Negeri Dar’iyah Serta Mau Membantu Perjuangannya Dalam Menegakkan Agama Allah.

Isteri Ibnu Saud Ini Sebenarnya Adalah Seorang Wanita Yang Soleh. Maka, Tatkala Ibnu Saud Mendapat Giliran Ke Rumah Isterinya Ini, Si Isteri Menyampaikan Semua Pesan-Pesan Itu Kepada Suaminya.

Selanjutnya Ia Berkata Kepada Suaminya: “Bergembiralah Kakanda Dengan Keuntungan Besar Ini, Keuntungan Di Mana Allah Telah Mengirimkan Ke Negeri Kita Seorang Ulama, Juru Dakwah Yang Mengajak Masyarakat Kita Kepada Agama Allah, Berpegang Teguh Kepada Kitabullah Dan Sunnah Rasulnya. Inilah Suatu Keuntungan Yang Sangat Besar. Kanda Jangan Ragu-Ragu Untuk Menerima Dan Membantu Perjuangan Ulama Ini, Mari Sekarang Juga Kekanda Menjemputnya Kemari.”

Akhirnya, Baginda Ibnu Saud Dapat Diyakinkan Oleh Isterinya Yang Soleh Itu. Namun, Baginda Bimbang Sejenak. Ia Berfikir Apakah Syeikh Itu Dipanggil Datang Menghadapnya, Ataukah Dia Sendiri Yang Harus Datang Menjemput Syeikh, Untuk Dibawa Ke Tempat Kediamannya? Baginda
Pun Meminta Pandangan Dari Beberapa Penasihatnya, Terutama Isterinya Sendiri, Tentang Bagaimanakah Cara Yang Lebih Baik Harus Dilakukannya.

Isterinya Dan Para Penasihatnya Yang Lain Sepakat Bahwa Sebaik- Baiknya Dalam Hal Ini, Baginda Sendiri Yang Harus Datang Menemui Syeikh Muhammad Di Rumah Muhammad Bin Sulaim. Karena Ulama Itu Didatangi Dan Bukan Ia Yang Datang, Al-`Alim Yuraru Wala Yazuru.’` Maka Baginda Dengan Segala Kerendahan Hatinya Menyetujui Nasihat Dan Isyarat Dari Isteri Maupun Para Penasihatnya.

Maka Pergilah Baginda Bersama Beberapa Orang Pentingnya Ke Rumah Muhammad Bin Sulaim, Di Mana Syeikh Muhammad Bermalam.

Sesampainya Baginda Di Rumah Muhammad Bin Sulaim; Di Sana Syeikh Bersama Anda Punya Rumah Sudah Bersedia Menerima Kedatangan Amir Ibnu Saud. Amir Ibnu Saud Memberi Salam Dan Keduanya Saling Merendahkan Diri, Saling Menghormati.

Amir Ibnu Saud Berkata: “Ya Syeikh! Bergembiralah Anda Di Negeri Kami, Kami Menerima Dan Menyambut Kedatangan Anda Di Negeri Ini Dengan Penuh Gembira. Dan Kami Berikrar Untuk Menjamin Keselamatan Dan Keamanan Anda Syeikh Di Negeri Ini Dalam Menyampaikan Dakwahnya
Kepada Masyarakat Dar’iyah. Demi Kejayaan Dakwah Islamiyah Yang Anda Syeikh Rencanakan, Kami Dan Seluruh Keluarga Besar Ibnu Saud Akan Mempertaruhkan Nyawa Dan Harta Untuk Bersama-Sama Anda Syeikh Berjuang Demi Meninggikan Agama Allah Dan Menghidupkan Sunnah
Rasulnya Sehingga Allah Memenangkan Perjuangan Ini, Insya Allah!”

Kemudian Anda Syeikh Menjawab: “Alhamdulillah, Anda Juga Patut Gembira, Dan Insya Allah Negeri Ini Akan Diberkati Allah SWT. Kami Ingin Mengajak Umat Ini Kepada Agama Allah. Siapa Yang Menolong Agama Ini, Allah Akan Menolongnya. Dan Siapa Yang Mendukung Agama Ini,
Nescaya Allah Akan Mendukungnya. Dan Insya Allah Kita Akan Melihat Kenyataan Ini Dalam Waktu Yang Tidak Begitu Lama.”

Demikianlah Seorang Amir (Penguasa) Tunggal Negeri Dar’iyah, Yang Bukan Hanya Sekadar Membela Dakwahnya Saja, Tetapi Juga Sekaligus Membela Darahnya Bagaikan Saudara Kandung Sendiri, Yang Berarti Di Antara Amir Dan Syeikh Sudah Bersumpah Setia Sehidup-Semati, Senasib, Dalam Menegakkan Hukum Allah Dan Rasulnya Di Bumi Persada Tanah Dar’iyah.

Ternyata Apa Yang Diikrarkan Oleh Amir Ibnu Saud Itu Benar-Benar Ditepatinya. Ia Bersama Syeikh Seiring Sejalan, Bahu-Membahu Dalam Menegakkan Kalimah Allah, Dan Berjuang Di Jalannya. Sehingga Cita- Cita Dan Perjuangan Mereka Disampaikan Allah Dengan Penuh Kemenangan Yang Gilang-Gemilang.

Sejak Hijrahnya Tuan Syeikh Ke Negeri Dar’iyah, Kemudian Melancarkan Dakwahnya Di Sana, Maka Berduyun-Duyunlah Masyarakat Luar Dar’iyah Yang Datang Dari Penjuru Jazirah Arab. Di Antara Lain Dari Uyainah, Urgah, Manfuhah, Riyadh Dan Negeri-Negeri Jiran Yang Lain, Menuju
Dar’iyah Untuk Menetap Dan Bertempat Tinggal Di Negeri Hijrah Ini, Sehingga Negeri Dar’iyah Penuh Sesak Dengan Kaum Muhajirin Dari Seluruh Pelosok Tanah Arab.

Nama Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Dengan Ajaran-Ajarannya Itu Sudah Begitu Popular Di Kalangan Masyarakat, Baik Di Dalam Negeri Dar’iyah Mahupun Di Luar Negerinya, Sehingga Ramai Para Penuntut Ilmu Datang Berbondong-Bondong, Secara Perseorangan Maupun Secara
Berombongan Datang Ke Negeri Dar’iyah.

Maka Menetaplah Syeikh Di Negeri Hijrah Ini Dengan Penuh Kebesaran, Kehormatan Dan Ketenteraman Serta Mendapat Sokongan Dan Kecintaan Dari Semua Pihak. Beliau Pun Mulai Membuka Madrasah Dengan Menggunakan Kurikulum Yang Menjadi Teras Bagi Rencana Perjuangan Beliau, Yaitu Bidang Pengajian ‘Aqaid Al-Qur’an, Tafsir, Fiqh, Usul Fiqh, Hadith, Musthalah Hadith, Gramatika (Nahu/Saraf)Nya Serta Lain- Lain Lagi Dari Ilmu-Ilmu Yang Bermanfaat.

Dalam Waktu Yang Singkat Saja, Dar’iyah Telah Menjadi Kiblat Ilmu Dan Kota Pelajar Penuntut Islam. Para Penuntut Ilmu, Tua Dan Muda, Berduyun-Duyun Datang Ke Negeri Ini. Di Samping Pendidikan Formal (Madrasah), Diadakan Juga Dakwah, Yang Bersifat Terbuka Untuk Semua
Lapisan Masyarakat Umum, Begitu Juga Majlis-Majlis Ta’limnya.

Gema Dakwah Beliau Begitu Membahana Di Seluruh Pelosok Dar’iyah Dan Negeri-Negeri Jiran Yang Lain. Kemudian, Syeikh Mula Menegakkan Jihad, Menulis Surat-Surat Dakwahnya Kepada Tokoh-Tokoh Tertentu Untuk Bergabung Dengan Barisan Muwahhidin Yang Dipimpin Oleh Beliau
Sendiri. Hal Ini Dalam Rangka Pergerakan Pembaharuan Tauhid Demi Membasmi Syirik, Bid’ah Dan Khurafat Di Negeri Mereka Masing-Masing.

Untuk Langkah Awal Pergerakan Itu, Beliau Memulai Di Negeri Najd. Beliau Pun Mula Mengirimkan Surat-Suratnya Kepada Ulama-Ulama Dan Penguasa-Penguasa Di Sana.

Berdakwah Melalui Surat-Menyurat

Syeikh Menempuh Pelbagai Macam Dan Cara, Dalam Menyampaikan Dakwahnya, Sesuai Dengan Keadaan Masyarakat Yang Dihadapinya. Di Samping Berdakwah Melalui Lisan, Beliau Juga Tidak Mengabaikan Dakwah Secara Pena Dan Pada Saatnya Juga Jika Perlu Beliau Berdakwah Dengan
Besi (Pedang).

Maka Syeikh Mengirimkan Suratnya Kepada Ulama-Ulama Riyadh Dan Para Umaranya, Yang Pada Ketika Itu Adalah Dahkan Bin Dawwas. Surat-Surat Itu Dikirimkannya Juga Kepada Para Ulama Khariq Dan Penguasa- Penguasa, Begitu Juga Ulama-Ulama Negeri Selatan, Seperti Al-Qasim,
Hail, Al-Wasyim, Sudair Dan Lain-Lainnya.

Beliau Terus Mengirimkan Surat-Surat Dakwahnya Itu Ke Sleuruh Penjuru Arab, Baik Yang Dekat Ataupun Jauh. Semua Surat-Surat Itu Ditujukan Kepada Para Umara Dan Ulama, Dalam Hal Ini Termasuklah Ulama Negeri Al-Ihsa’, Daerah Badwi Dan Haramain (Mekah – Madinah). Begitu Juga Kepada Ulama-Ulama Mesir, Syria, Iraq, Hindia, Yaman Dan Lain-Lain Lagi. Di Dalam Surat-Surat Itu, Beliau Menjelaskan Tentang Bahaya Syirik Yang Mengancam Negeri-Negeri Islam Di Seluruh Dunia, Juga Bahaya Bid’ah, Khurafat Dan Tahyul.

Bukanlah Bererti Bahwa Ketika Itu Tidak Ada Lagi Perhatian Para Ulama Islam Setempat Kepada Agama Ini, Sehingga Seolah-Olah Bagaikan Tidak Ada Lagi Yang Memperahtikan Masalah Agama. Akan Tetapi Yang Sedang Kita Bicarakan Sekarang Adalah Masalah Negeri Najd Dan Sekitarnya.

Tentang Keadaan Negeri Najd, Di Waktu Itu Sedang Dilanda Serba Kemusyrikan, Kekacauan, Keruntuhan Moral, Bid’ah Dan Khurafat. Kesemuanya Itu Timbul Bukanlah Karena Tidak Adanya Para Ulama, Malah Ulama Sangat Ramai Jumlahnya, Tetapi Kebanyakan Mereka Tidak Mampu
Menghadapi Keadaan Yang Sudah Begitu Parah. Misalnya, Di Negeri Yaman Dan Lainnya, Di Mana Di Sana Tidak Sedikit Para Ulamanya Yang Aktif
Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Serta Menjelaskan Mana Yang Bid’ah Dan Yang Sunnah. Namun Allah Belum Mentaqdirkan Kejayaan Dakwah Itu Dari Tangan Mereka Seperti Apa Yang Allah Taqdirkan Kepada Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab.

Berkat Hubungan Surat Menyurat Syeikh Terhadap Para Ulama Dan Umara Dalam Dan Luar Negeri, Telah Menambahkan Kemasyhuran Nama Syeikh Sehingga Beliau Disegani Di Antara Kawan Dan Lawannya, Hingga Jangkauan Dakwahnya Semakin Jauh Berkumandang Di Luar Negeri, Dan Tidak Kecil Pengaruhnya Di Kalangan Para Ulama Dan Pemikir Islam Di Seluruh Dunia, Seperti Di Hindia, Indonesia, Pakistan, Afthanistan, Afrika Utara, Maghribi, Mesir, Syria, Iraq Dan Lain-Lain Lagi.

Memang Cukup Banyak Para Da’i Dan Ulama Di Negeri-Negeri Tersebut Tetapi Pada Waktu Itu Kebanyakan Di Antara Mereka Yang Kehilangan Arah, Meskipun Mereka Memiliki Ilmu-Ilmu Yang Cukup Memadai.

Begitu Semarak Dan Bergemanya Suara Dakwah Dari Najd Ke Negeri-Negeri Mereka, Serentak Mereka Bangkit Sahut-Menyahut Menerima Ajakan Syeikh Ibnu `Abdul Wahab Untuk Menumpaskan Kemusyrikan Dan Memperjuangkan Pemurnian Tauhid. Semangat Mereka Timbul Kembali Bagaikan Pohon Yang Telah Layu, Lalu Datang Hujan Lebat Menyiramnya Sehingga Menjadi Hijau Dan Segar Kembali.

Demikianlah Banyaknya Surat-Menyurat Di Antara Syeikh Dengan Para Ulama Di Dalam Dan Luar Jazirah Arab, Sehingga Menjadi Dokumen Yang Amat Berharga Sekali. Akhir-Akhir Ini Semua Tulisan Beliau, Yang Berupa Risalah, Maupun Kitab-Kitabnya, Sedang Dihimpun Untuk Dicetak
Dan Sebagian Sudah Dicetak Dan Disebarkan Ke Seluruh Pelosok Dunia Islam, Baik Melalui Rabithah Al-`Alam Islami, Maupun Terus Dari Pihak Kerajaan Saudi Sendiri ( Di Masa Mendatang). Begitu Juga Dengan Tulisan-Tulisan Dari Putera-Putera Dan Cucu-Cucu Beliau Serta Tulisan-
Tulisan Para Murid-Muridnya Dan Pendukung-Pendukungnya Yang Telah Mewarisi Ilmu-Ilmu Beliau. Di Masa Kini, Tulisan-Tulisan Beliau Sudah Tersebar Luas Ke Seluruh Pelosok Dunia Islam.

Dengan Demikian, Jadilah Dar’iyah Sebagai Pusat Penyebaran Dakwah Kaum Muwahhidin (Gerakan Pemurnian Tauhid) Oleh Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Yang Didukung Oleh Penguasa Amir Ibnu Saud. Kemudian Murid-Murid Keluaran Dar’iyah Pula Menyebarkan Ajaran-Ajaran Tauhid Murni Ini Ke Seluruh Pelusuk Negeri Dengan Cara Membuka Sekolah- Sekolah Di Daerah-Daerah Mereka.

Namun, Meskipun Demikian, Perjalanan Dakwah Ini Tidak Sedikit Mengalami Rintangan Dan Gangguan Yang Menghalangi. Tetapi Setiap Perjuangan Itu Tidak Mungkin Berjaya Tanpa Adanya Pengorbanan. Sejarah Pembaharuan Yang Digerakkan Oleh Syeikh Muhammad Bin `Abdul
Wahab Ini Tercatat Dalam Sejarah Dunia Sebagai Yang Paling Hebat Dari Jenisnya Dan Amat Cemerlang.

Di Samping Itu, Hal Ini Merupakan Suatu Pergerakan Perubahan Besar Yang Banyak Memakan Korban Manusia Maupun Harta Benda. Karena Pergerakan Ini Mendapat Tentangan Bukan Hanya Dari Luar, Akan Tetapi Lebih Banyak Datangnya Dari Kalangan Sendiri, Terutama Dari Tokoh-
Tokoh Agama Islam Sendiri Yang Takut Akan Kehilangan Pangkat, Kedudukan, Pengaruh Dan Jamaahnya. Namun, Oleh Karena Perlawanan Sudah Juga Digencarkan Muslimin Sendiri, Maka Orang-Orang Di Luar Islam Pula, Terutama Kaum Orientalis Mendapat Angin Segar Untuk Turut
Campur-Tangan Membesarkan Perselisihan Diantara Umat Islam Sehingga Terjadi Saling Membid’ahkan Dan Bahkan Saling Mengkafirkan.

Masa-Masa Tersebut Telah Pun Berlalu. Umat Islam Kini Sudah Sedar Tentang Apa Dan Siapa Kaum Pengikut Dakwah Rasulullah Yang Diteruskan Muhammad Bin Abdul Wahhab (Dijuluki Wahabi). Dan Satu Persatu Kejahatan Dan Kebusukan Kaum Orientalis Yang Sengaja Mengadu Domba Antara Sesama Umat Islam Semenjak Awal, Begitu Juga Dari Kaum Penjajah Barat, Semuanya Kini Sudah Terungkap.

Meskipun Usaha Musuh-Musuh Dakwahnya Begitu Hebat, Sama Ada Dari Kalangan Dalam Islam Sendiri, Mahupun Dari Kalangan Luarnya, Yang Dilancarkan Melalui Pena Atau Ucapan, Yang Ditujukan Untuk Membendung Dakwah Tauhid Ini, Namun Usaha Mereka Sia-Sia Belaka, Karena Ternyata Allah SWT Telah Memenangkan Perjuangan Dakwah Tauhid Yang Dipelopori
Oleh Syeikh Islam, Imam Muhammad Bin `Abdul Wahab Yang Telah Mendapat Sambutan Bukan Hanya Oleh Penduduk Negeri Najd Saja, Akan Tetapi Juga Sudah Menggema Ke Seluruh Dunia Islam Dari Maghribi Sampai Ke Merauke, Malah Kini Sudah Berkumandang Pula Ke Seluruh Jagat Raya.

Dalam Hal Ini, Jasa-Jasa Putera Muhammad Bin Saud (Pendiri Kerajaan Arab Saudi) Dengan Semua Anak Cucunya Tidaklah Boleh Dilupakan Begitu Saja, Di Mana Dari Masa Ke Masa Mereka Telah Membantu Perjuangan Tauhid Ini Dengan Harta Dan Jiwa.

SIAPAKAH Salafiyyah ITU?

SEBAGAIMANA Yang Telah Disebutkan, Bahwa Salafiyyah Itu Adalah Suatu Pergerakan Pembaharuan Di Bidang Agama, Khususnya Di Bidang Ketauhidan. Tujuannya Ialah Untuk Memurnikan Kembali Ketauhidan Yang Telah Tercemar Oleh Pelbagai Macam Bid’ah Dan Khurafat Yang Membawa Kepada Kemusyrikan.

Untuk Mencapai Tujuan Tersebut, Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Telah Menempuh Pelbagai Macam Cara. Kadangkala Lembut Dan Kadangkala Kasar, Sesuai Dengan Sifat Orang Yang Dihadapinya. Beliau Mendapat Pertentangan Dan Perlawanan Dari Kelompok Yang Tidak Menyenanginya Karena Sikapnya Yang Tegas Dan Tanpa Kompromi, Sehingga Lawan- Lawannya Membuat Tuduhan-Tuduhan Ataupun Pelbagai Fitnah Terhadap Dirinya Dan Pengikut-Pengikutnya.

Musuh-Musuhnya Pernah Menuduh Bahwa Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Telah Melarang Para Pengikutnya Membaca Kitab Fiqh, Tafsir Dan Hadith. Malahan Ada Yang Lebih Keji, Yaitu Menuduh Syeikh Muhammad Telah Membakar Beberapa Kitab Tersebut, Serta Menafsirkan Al-Qur’an Menurut Kehendak Hawa Nafsu Sendiri.

Apa Yang Dituduh Dan Difitnah Terhadap Syeikh Ibnu `Abdul Wahab Itu, Telah Dijawab Dengan Tegas Oleh Seorang Pengarang Terkenal, Yaitu Al- Allamah Syeikh Muhammad Basyir As-Sahsawani, Dalam Bukunya Yang Berjudul Shiyanah Al-Insan Di Halaman 473 Seperti Berikut:

“Sebenarnya Tuduhan Tersebut Telah Dijawab Sendiri Oleh Syeikh Ibnu `Abdul Wahab Sendiri Dalam Suatu Risalah Yang Ditulisnya Dan Dialamatkan Kepada `Abdullah Bin Suhaim Dalam Pelbagai Masalah Yang Diperselisihkan Itu. Diantaranya Beliau Menulis Bahwa Semua Itu
Adalah Bohong Dan Kata-Kata Dusta Belaka, Seperti Dia Dituduh Membatalkan Kitab-Kitab Mazhab, Dan Dia Mendakwakan Dirinya Sebagai Mujtahid, Bukan Muqallid.”

Kemudian Dalam Sebuah Risalah Yang Dikirimnya Kepada `Abdurrahman Bin `Abdullah, Muhammad Bin `Abdul Wahab Berkata: “Aqidah Dan Agama Yang Aku Anut, Ialah Mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah, Sebagai Tuntunan Yang Dipegang Oleh Para Imam Muslimin, Seperti Imam-Imam Mazhab Empat Dan Pengikut-Pengikutnya Sampai Hari Kiamat. Aku Hanyalah Suka Menjelaskan Kepada Orang-Orang Tentang Pemurnian Agama Dan Aku Larang Mereka Berdoa (Mohon Syafaat) Pada Orang Yang Hidup Atau Orang Mati Daripada Orang-Orang Soleh Dan Lainnya.”

`Abdullah Bin Muhammad Bin `Abdul Wahab, Menulis Dalam Risalahnya Sebagai Ringkasan Dari Beberapa Hasil Karya Ayahnya, Syeikh Ibnu `Abdul Wahab, Seperti Berikut: “Bahwa Mazhab Kami Dalam Ushuluddin (Tauhid) Adalah Mazhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Dan Cara (Sistem) Pemahaman Kami Adalah Mengikuti Cara Ulama Salaf. Sedangkan Dalam Hal Masalah Furu’ (Fiqh) Kami Cenderung Mengikuti Mazhab Ahmad Bin Hanbal Rahimahullah. Kami Tidak Pernah Mengingkari (Melarang) Seseorang Bermazhab Dengan Salah Satu Daripada Mazhab Yang Empat. Dan Kami Tidak Mempersetujui Seseorang Bermazhab Kepada Mazhab Yang Luar Dari
Mazhab Empat, Seprti Mazhab Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah Dan Lain- Lain Lagi. Kami Tidak Membenarkan Mereka Mengikuti Mazhab-Mazhab Yang Batil. Malah Kami Memaksa Mereka Supaya Bertaqlid (Ikut) Kepada Salah Satu Dari Mazhab Empat Tersebut. Kami Tidak Pernah Sama Sekali
Mengaku Bahwa Kami Sudah Sampai Ke Tingkat Mujtahid Mutlaq, Juga Tidak Seorang Pun Di Antara Para Pengikut Kami Yang Berani Mendakwakan Dirinya Dengan Demikian. Hanya Ada Beberapa Masalah Yang Kalau Kami Lihat Di Sana Ada Nash Yang Jelas, Baik Dari Qur’an
Mahupun Sunnah, Dan Setelah Kami Periksa Dengan Teliti Tidak Ada Yang Menasakhkannya, Atau Yang Mentaskhsiskannya Atau Yang Menentangnya, Lebih Kuat Daripadanya, Serta Dipegangi Pula Oleh Salah Seorang Imam Empat, Maka Kami Mengambilnya Dan Kami Meninggalkan Mazhab Yang Kami Anut, Seperti Dalam Masalah Warisan Yang Menyangkut Dengan Kakek Dan
Saudara Lelaki; Dalam Hal Ini Kami Berpendirian Mendahulukan Kakek, Meskipun Menyalahi Mazhab Kami (Hambali).”

Demikianlah Bunyi Isi Tulisan Kitab Shiyanah Al-Insan, Hal. 474. Seterusnya Beliau Berkata: “Adapun Yang Mereka Fitnah Kepada Kami, Sudah Tentu Dengan Maksud Untuk Menutup-Nutupi Dan Menghalang-Halangi Yang Hak, Dan Mereka Membohongi Orang Banyak Dengan Berkata: `Bahwa Kami Suka Mentafsirkan Qur’an Dengan Selera Kami, Tanpa Mengindahkan Kitab-Kitab Tafsirnya. Dan Kami Tidak Percaya Kepada Ulama, Menghina Nabi Kita Muhammad SAW’ Dan Dengan Perkataan `Bahwa Jasad Nabi SAW Itu Buruk Di Dalam Kuburnya. Dan Bahwa Tongkat Kami Ini Lebih Bermanfaat Daripada Nabi, Dan Nabi Itu Tidak Mempunyai Syafaat.

Dan Ziarah Kepada Kubur Nabi Itu Tidak Sunat, Nabi Tidak Mengerti Makna “La Ilaha Illallah” Sehingga Perlu Diturunkan Kepadanya Ayat Yang Berbunyi: “Fa’lam Annahu La Ilaha Illallah,” Dan Ayat Ini Iturunkan Di Madinah. Dituduhnya Kami Lagi, Bahwa Kami Tidak Percaya Kepada Pendapat Para Ulama. Kami Telah Menghancurkan Kitab-Kitab Karangan Para Ulama Mazhab, Karena Didalamnya Bercampur Antara Yang Hak Dan Batil. Malah Kami Dianggap Mujassimah (Menjasmanikan Allah), Serta Kami Mengkufurkan Orang-Orang Yang Hidup Sesudah Abad Keenam, Kecuali Yang Mengikuti Kami. Selain Itu Kami Juga Dituduh Tidak Mahu Menerima Bai’ah Seseorang Sehingga Kami Menetapkan Atasnya `Bahwa Dia Itu Bukan Musyrik Begitu Juga Ibu-Bapaknya Juga Bukan Musyrik.’

Dikatakan Lagi Bahwa Kami Telah Melarang Manusia Membaca Selawat Ke Atas Nabi SAW Dan Mengharamkan Berziarah Ke Kubur-Kubur. Kemudian Dikatakannya Pula, Jika Seseorang Yang Mengikuti Ajaran Agama Sesuai Dengan Kami, Maka Orang Itu Akan Diberikan Kelonggaran Dan Kebebasan Dari Segala Beban Dan Tanggungan Atau Hutang Sekalipun.
Kami Dituduh Tidak Mahu Mengakui Kebenaran Para Ahlul Bait R.A. Dan Kami Memaksa Menikahkan Seseorang Yang Tidak Kufu Serta Memaksa Seseorang Yang Tua Umurnya Dan Ia Mempunyai Isteri Yang Muda Untuk Diceraikannya, Karena Akan Dinikahkan Dengan Pemuda Lainnya Untuk Mengangkat Derajat Golongan Kami.

Maka Semua Tuduhan Yang Diada-Adakan Dalam Hal Ini Sungguh Kami Tidak Mengerti Apa Yang Harus Kami Katakan Sebagai Jawapan, Kecuali Yang Dapat Kami Katakan Hanya “Subhanaka – Maha Suci Engkau Ya Allah” Ini Adalah Kebohongan Yang Besar. Oleh Karena Itu, Maka Barangsiapa Menuduh Kami Dengan Hal-Hal Yang Tersebut Di Atas Tadi, Mereka Telah
Melakukan Kebohongan Yang Amat Besar Terhadap Kami. Barangsiapa Mengaku Dan Menyaksikan Bahwa Apa Yang Dituduhkan Tadi Adalah Perbuatan Kami, Maka Ketahuilah: Bahwa Kesemuanya Itu Adalah Suatu Penghinaan Terhadap Kami, Yang Dicipta Oleh Musuh-Musuh Agama Ataupun Teman-Teman Syaithan Dari Menjauhkan Manusia Untuk Mengikuti Ajaran Sebersih-Bersih Tauhid Kepada Allah Dan Keikhlasan Beribadah Kepadanya.

Kami Beri’tiqad Bahwa Seseorang Yang Mengerjakan Dosa Besar, Seperti Melakukan Pembunuhan Terhadap Seseorang Muslim Tanpa Alasan Yang Wajar, Begitu Juga Seperti Berzina, Riba’ Dan Minum Arak, Meskipun Berulang-Ulang, Maka Orang Itu Hukumnya Tidaklah Keluar Dari Islam (Murtad), Dan Tidak Kekal Dalam Neraka, Apabila Ia Tetap Bertauhid Kepada Allah Dalam Semua Ibadahnya.” (Shiyanah Al-Insan, M.S 475)

Khusus Tentang Nabi Muhammad SAW, Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Berkata: “Dan Apapun Yang Kami Yakini Terhadap Martabat Muhammad SAW Bahwa Martabat Beliau Itu Adalah Setinggi-Tinggi Martabat Makhluk Secara Mutlak. Dan Beliau Itu Hidup Di Dalam Kuburnya Dalam Keadaan Yang Lebih Daripada Kehidupan Para Syuhada Yang Telah Digariskan Dalam Al-Qur’an. Karena Beliau Itu Lebih Utama Dari Mereka, Dengan Tidak Diragukan Lagi. Bahwa Rasulullah SAW Mendengar Salam Orang Yang Mengucapkan Kepadanya. Dan Adalah Sunnah Berziarah Kepada Kuburnya, Kecuali Jika Semata-Mata Dari Jauh Hanya Datang Untuk Berziarah Ke Maqamnya. Namun Sunat Juga Berziarah Ke Masjid Nabi Dan Melakukan Solat Di Dalamnya, Kemudian Berziarah Ke Maqamnya. Dan Barang Siapa Yang Menggunakan Waktunya Yang Berharga Untuk Membaca Selawat Ke Atas Nabi, Selawat Yang Datang Daripada Beliau Sendiri, Maka Ia Akan Mendapat Kebahagiaan Di Dunia Dan Akhirat.”

Tantangan Dakwah Salafiyyah

Sebagaimana Lazimnya, Seorang Pemimpin Besar Dalam Suatu Gerakan Perubahan , Maka Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Pun Tidak Lepas Dari Sasaran Permusuhan Dari Pihak-Pihak Tertentu, Baik Dari Dalam Maupun Dari Luar Islam, Terutama Setelah Syeikh Menyebarkah
Dakwahnya Dengan Tegas Melalui Tulisan-Tulisannya, Berupa Buku-Buku Mahupun Surat-Surat Yang Tidak Terkira Banyaknya. Surat-Surat Itu Dikirim Ke Segenap Penjuru Negeri Arab Dan Juga Negeri-Negeri Ajam (Bukan Arab).

Surat-Suratnya Itu Dibalas Oleh Pihak Yang Menerimanya, Sehingga Menjadi Beratus-Ratus Banyaknya. Mungkin Kalau Dibukukan Niscaya Akan Menjadi Puluhan Jilid Tebalnya.

Sebagian Dari Surat-Surat Ini Sudah Dihimpun, Diedit Serta Diberi Ta’liq Dan Sudah Diterbitkan, Sebagian Lainnya Sedang Dalam Proses Penyusunan. Ini Tidak Termasuk Buku-Buku Yang Sangat Berharga Yang Sempat Ditulis Sendiri Oleh Syeikh Di Celah-Celah Kesibukannya Yang Luarbiasa Itu. Adapun Buku-Buku Yang Sempat Ditulisnya Itu Berupa Buku-Buku Pegangan Dan Rujukan Kurikulum Yang Dipakai Di Madrasah- Madrasah Ketika Beliau Memimpin Gerakan Tauhidnya.

Tentangan Maupun Permusuhan Yang Menghalang Dakwahnya, Muncul Dalam Dua Bentuk:
1. Permusuhan Atau Tentangan Atas Nama Ilmiyah Dan Agama,
2. Atas Nama Politik Yang Berselubung Agama.

Bagi Yang Terakhir, Mereka Memperalatkan Golongan Ulama Tertentu, Demi Mendukung Kumpulan Mereka Untuk Memusuhi Dakwah Wahabiyah.

Mereka Menuduh Dan Memfitnah Syeikh Sebagai Orang Yang Sesat Lagi Menyesatkan, Sebagai Kaum Khawarij, Sebagai Orang Yang Ingkar Terhadap Ijma’ Ulama Dan Pelbagai Macam Tuduhan Buruk Lainnya.

Namun Syeikh Menghadapi Semuanya Itu Dengan Semangat Tinggi, Dengan Tenang, Sabar Dan Beliau Tetap Melancarkan Dakwah Bil Lisan Dan Bil Hal, Tanpa Mempedulikan Celaan Orang Yang Mencelanya.

Pada Hakikatnya Ada Tiga Golongan Musuh-Musuh Dakwah Beliau:
1. Golongan Ulama Khurafat, Yang Mana Mereka Melihat Yang Haq (Benar) Itu Batil Dan Yang Batil Itu Haq. Mereka Menganggap Bahwa Mendirikan Bangunan Di Atas Kuburan Lalu Dijadikan Sebagai Masjid Untuk Bersembahyang Dan Berdoa Di Sana Dan Mempersekutukan Allah Dengan Penghuni Kubur, Meminta Bantuan Dan Meminta Syafaat Padanya, Semua Itu Adalah Agama Dan Ibadah. Dan Jika Ada Orang-Orang Yang Melarang Mereka Dari Perbuatan Jahiliyah Yang Telah Menjadi Adat Tradisi Nenek Moyangnya, Mereka Menganggap Bahwa Orang Itu Membenci Auliya’ Dan Orang-Orang Soleh, Yang Bererti Musuh Mereka Yang Harus Segera
Diperangi.

2. Golongan Ulama Taashub, Yang Mana Mereka Tidak Banyak Tahu Tentang Hakikat Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Dan Hakikat Ajarannya. Mereka Hanya Taqlid Belaka Dan Percaya Saja Terhadap Berita-Berita Negatif Mengenai Syeikh Yang Disampaikan Oleh Kumpulan Pertama Di Atas Sehingga Mereka Terjebak Dalam Perangkap Ashabiyah (Kebanggaan Dengan Golongannya ) Yang Sempit Tanpa Mendapat Kesempatan Untuk Melepaskan Diri Dari Belitan Ketaashubannya. Lalu Menganggap Syeikh Dan Para Pengikutnya Seperti Yang Diberitakan, Yaitu; Anti Auliya’ Dan Memusuhi Orang-Orang Shaleh Serta Mengingkari Karamah Mereka.
Mereka Mencaci-Maki Syeikh Habis-Habisan Dan Beliau Dituduh Sebagai Murtad.

3. Golongan Yang Takut Kehilangan Pangkat Dan Jawatan, Pengaruh Dan Kedudukan. Maka Golongan Ini Memusuhi Beliau Supaya Dakwah Islamiyah Yang Dilancarkan Oleh Syeikh Yang Berpandukan Kepada Aqidah Salafiyah Murni Gagal Karena Ditelan Oleh Suasana Hingar-Bingarnya Penentang Beliau.

Demikianlah Tiga Jenis Musuh Yang Lahir Di Tengah-Tengah Nyalanya Api Gerakan Yang Digerakkan Oleh Syeikh Dari Najd Ini, Yang Mana Akhirnya Terjadilah Perang Perdebatan Dan Polemik Yang Berkepanjangan Di Antara Syeikh Di Satu Pihak Dan Lawannya Di Pihak Yang Lain.
Syeikh Menulis Surat-Surat Dakwahnya Kepada Mereka, Dan Mereka Menjawabnya. Demikianlah Seterusnya.

Perang Pena Yang Terus Menerus Berlangsung Itu, Bukan Hanya Terjadi Di Masa Hayat Syeikh Sendiri, Akan Tetapi Berterusan Sampai Kepada Anak Cucunya. Di Mana Anak Cucunya Ini Juga Ditakdirkan Allah Menjadi Ulama.

Merekalah Yang Meneruskan Perjuangan Al-Maghfurlah Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab, Yang Dibantu Oleh Para Muridnya Dan Pendukung- Pendukung Ajarannya. Demikianlah Perjuangan Syeikh Yang Berawal Dengan Lisan, Lalu Dengan Pena Dan Seterusnya Dengan Senjata, Telah Didukung Sepenuhnya Oleh Amir Muhammad Bin Saud, Penguasa Dar’iyah.

Beliau Pertama Kali Yang Mengumandangkan Jihadnya Dengan Pedang Pada Tahun 1158 H. Sebagaimana Kita Ketahui Bahwa Seorang Da’i Ilallah, Apabila Tidak Didukung Oleh Kekuatan Yang Mantap, Pasti Dakwahnya Akan Surut, Meskipun Pada Tahap Pertama Mengalami Kemajuan. Namun Pada Akhirnya Orang Akan Jemu Dan Secara Beransur-Ansur Dakwah Itu Akan Ditinggalkan Oleh Para Pendukungnya.

Oleh Karena Itu, Maka Kekuatan Yang Paling Ampuh Untuk Mempertahankan Dakwah Dan Pendukungnya, Tidak Lain Harus Didukung Oleh Senjata. Karena Masyarakat Yang Dijadikan Sebagai Objek Daripada Dakwah Kadangkala Tidak Mampan Dengan Lisan Mahupun Tulisan, Akan Tetapi Mereka Harus Diiring Dengan Senjata, Maka Waktu Itulah Perlunya Memainkan Peranan Senjata.

Alangkah Benarnya Firman Allah SWT: ” Sesungguhnya Kami Telah Mengutus Rasul-Rasul Kami, Dengan Membawa Bukti-Bukti Yang Nyata Dan Telah Kami Turunkan Bersama Mereka Al-Kitab Dan Mizan/Neraca (Keadilan) Supaya Manusia Dapat Melaksanakan Keadilan. Dan Kami
Ciptakan Besi Yang Padanya Terdapat Kekuatan Yang Hebat Dan Pelbagai Manfaat Bagi Umat Manusia, Dan Supaya Allah Mengetahui Siapa Yang Menolong (Agama)Nya Dan Rasulnya Padahal Allah Tidak Dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat Dan Maha Perkasa.” (Al-Hadid:25)

Ayat Di Atas Menerangkan Bahwa Allah SWT Mengutus Para Rasulnya Dengan Disertai Bukti-Bukti Yang Nyata Untuk Menumpaskan Kebatilan Dan Menegakkan Kebenaran. Di Samping Itu Pula, Mereka Dibekalkan Dengan Kitab Yang Di Dalamnya Terdapat Pelbagai Macam Hukum Dan
Undang-Undang, Keterangan Dan Penjelasan. Juga Allah Menciptakan Neraca (Mizan) Keadilan, Baik Dan Buruk Serta Haq Dan Batil, Demi Tertegaknya Kebenaran Dan Keadilan Di Tengah-Tengah Umat Manusia.

Namun Semua Itu Tidak Mungkin Berjalan Dengan Lancar Dan Stabil Tanpa Ditunjang Oleh Kekuatan Besi (Senjata) Yang Menurut Keterangan Al- Qur’an Al-Hadid Fihi Basun Syadid Yaitu, Besi Baja Yang Mempunyai Kekuatan Dahsyat. Yaitu Berupa Senjata Tajam, Senjata Api, Peluru,
Senapan, Meriam, Kapal Perang, Nuklir Dan Lain-Lain Lagi, Yang Pembuatannya Mesti Menggunakan Unsur Besi.

Sungguh Besi Itu Amat Besar Manfaatnya Bagi Kepentingan Umat Manusia Yang Mana Al-Qur’an Menyatakan Dengan Wama Nafiu Linasi Yaitu Dan Banyak Manfaatnya Bagi Umat Manusia. Apatah Lagi Jika Dipergunakan Bagi Kepentingan Dakwah Dan Menegakkan Keadilan Dan Kebenaran Seperti Yang Telah Dimanfaatkan Oleh Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Semasa Gerakan Tauhidnya Tiga Abad Yang Lalu.

Orang Yang Mempunyai Akal Yang Sehat Dan Fikiran Yang Bersih Akan Mudah Menerima Ajaran-Ajaran Agama, Sama Ada Yang Dibawa Oleh Nabi, Mahupun Oleh Para Ulama. Akan Tetapi Bagi Orang Zalim Dan Suka Melakukan Kejahatan, Yang Diperhambakan Oleh Hawa Nafsunya, Mereka
Tidak Akan Tunduk Dan Tidak Akan Mau Menerimanya, Melainkan Jika Mereka Diiring Dengan Senjata.

Demikianlah Syeikh Muhammad Bin `Abdul Wahab Dalam Dakwah Dan Jihadnya Telah Memanfaatkan Lisan, Pena Serta Pedangnya Seperti Yang Dilakukan Oleh Rasulullah SAW Sendiri, Di Waktu Baginda Mengajak Kaum Quraisy Kepada Agama Islam Pada Waktu Dahulu. Yang Demikian Itu Telah Dilakukan Terus Menerus Oleh Syeikh Muhammad Selama Lebih Kurang 48
Tahun Tanpa Berhenti, Yaitu Dari Tahun 1158 Hinggalah Akhir Hayatnya Pada Tahun 1206 H.

Adalah Suatu Kebahagiaan Yang Tidak Terucapkan Bagi Beliau, Yang Mana Beliau Dapat Menyaksikan Sendiri Akan Kejayaan Dakwahnya Di Tanah Najd Dan Daerah Sekelilingnya, Sehingga Masyarakat Islam Pada Ketika Itu Telah Kembali Kepada Ajaran Agama Yang Sebenar-Benarnya, Sesuai Dengan Tuntunan Kitab Allah Dan Sunnah Rasulnya.

Dengan Demikian, Maka Maqam-Maqam Yang Didirikan Dengan Kubah Yang Lebih Mewah Dari Kubah Masjid-Masjid, Sudah Tidak Kelihatan Lagi Di Seluruh Negeri Najd, Dan Orang Ramai Mula Berduyun-Duyun Pergi Memenuhi Masjid Untuk Bersembahyang Dan Mempelajari Ilmu Agama. Amar Ma’ruf Ditegakkan, Keamanan Dan Ketenteraman Masyarakat Menjadi Stabil Dan Merata Di Kota Mahupun Di Desa. Syeikh Kemudian Mengirim Guru-Guru Agama Dan Mursyid-Mursyid Ke Seluruh Pelusuk Desa Untuk Mengajarkan Ilmu-Ilmu Agama Kepada Masyarakat Setempat Terutama Yang Berhubungan Dengan Aqidah Dan Syari’ah.

Setelah Beliau Meninggal Dunia, Perjuangan Tersebut Diteruskan Pula Oleh Anak-Anak Dan Cucu-Cucunya, Begitu Juga Oleh Murid-Murid Dan Pendukung-Pendukung Dakwahnya. Yang Dipelopori Oleh Anak-Anak Syeikh Sendiri, Seperti Syeikh Imam `Abdullah Bin Muhammad, Syeikh Husin Bin Muhammad, Syeikh Ibrahim Bin Muhammad, Syeikh Ali Bin Muhammad. Dan Dari Cucu-Cucunya Antara Lain Ialah Syeikh `Abdurrahman Bin Hasan, Syeikh Ali Bin Husin, Syeikh Sulaiman Bin `Abdullah Bin
Muhammad Dan Lain-Lain. Dari Kalangan Murid-Murid Beliau Yang Paling Menonjol Ialah Syeikh Hamad Bin Nasir Bin Mu’ammar Dan Ramai Lagi Jamaah Lainnya Dari Para Ulama Dar’iyah.

Masjid-Masjid Telah Penuh Dengan Penuntut-Penuntut Ilmu Yang Belajar Tentang Pelbagai Macam Ilmu Islam, Terutama Tafsir, Hadith, Tarikh Islam, Ilmu Qawa’id Dan Lain-Lain Lagi. Meskipun Kecenderungan Dan Minat Mansyarakat Demikian Tinggi Untuk Menuntut Ilmu Agama, Namun Mereka Pun Tidak Ketinggalan Dalam Hal Ilmu-Ilmu Keduniaan Seperti Ilmu Ekonomi, Pertanian, Perdagangan, Pertukangan Dan Lain-Lain Lagi Yang Mana Semuanya Itu Diajarkan Di Masjid Dan Dipraktikkan Dalam Kehidupan Mereka Sehari-Hari.

Setelah Kejayaan Syeikh Muhammad Bersama Keluarga Amir Ibnu Saud Menguasai Daerah Najd, Maka Sasaran Dakwahnya Kini Ditujukan Ke Negeri Mekah Dan Negeri Madinah (Haramain) Dan Daerah Selatan Jazirah Arab. Mula-Mula Syeikh Menawarkan Kepada Mereka Dakwahnya Melalui Surat Menyurat Terhadap Para Ulamanya, Namun Mereka Tidak Mau Menerimanya.

Mereka Tetap Bertahan Pada Ajaran-Ajaran Nenek Moyang Yang Mengkeramatkan Kuburan Dan Mendirikan Masjid Di Atasnya, Lalu Berduyun-Duyun Datang Ke Tempat Itu Meminta Syafaat, Meminta Berkat, Dan Meminta Agar Dikabulkan Hajat Pada Ahli Kubur Atau Dengan Mempersekutukan Si Penghuni Kubur Itu Dengan Allah SWT.

Sebelas Tahun Setelah Meninggalnya Kedua Tokoh Mujahid Ini, Yaitu Syeikh Dan Amir Ibnu Saud, Kemudian Tampillah Imam Saud Bin `Abdul `Aziz Untuk Meneruskan Perjuangan Pendahulunya. Imam Saud Adalah Cucu Kepada Amir Muhammad Bin Saud, Rekan Seperjuangan Syeikh Semasa
Beliau Masih Hidup. Berangkatlah Imam Saud Bin `Abdul `Aziz Menuju Tanah Haram Mekah Dan
Madinah (Haramain) Yang Dikenal Juga Dengan Nama Tanah Hijaz.

Mula-Mula Beliau Bersama Pasukannya Berjaya Menduduki Tha’if. Penaklukan Tha’if Tidak Begitu Banyak Mengalami Kesukaran Karena Sebelumnya Imam Saud Bin `Abdul `Aziz Telah Mengirimkan Amir Uthman Bin `Abdurrahman Al-Mudhayifi Dengan Membawa Pasukannya Dalam Jumlah Yang Besar Untuk Mengepung Tha’if. Pasukan Ini Terdiri Dari Orang- Orang Najd Dan Daerah Sekitarnya. Oleh Karena Itu Ibnu `Abdul `Aziz Tidak Mengalami Banyak Kerugian Dalam Penaklukan Negeri Tha’if, Sehingga Dalam Waktu Singkat Negeri Tha’if Menyerah Dan Jatuh Ke
Tangan Salafy (Pengikut Syaikh Muhammad).

Di Tha’if, Pasukan Muwahidin Membongkar Beberapa Maqam Yang Di
Atasnya Didirikan Masjid, Di Antara Maqam Yang Dibongkar Adalah Maqam
Ibnu Abbas R.A. Masyarakat Setempat Menjadikan Maqam Ini Sebagai
Tempat Ibadah, Dan Meminta Syafaat Serta Berkat Daripadanya.

Dari Tha’if Pasukan Imam Saud Bergerak Menuju Hijaz Dan Mengepung
Kota Mekah. Manakala Gubernur Mekah Mengetahui Sebab Pengepungan
Tersebut (Waktu Itu Mekah Di Bawah Pimpinan Syarif Husin), Maka Hanya
Ada Dua Pilihan Baginya, Menyerah Kepada Pasukan Imam Saud Atau
Melarikan Diri Ke Negeri Lain. Ia Memilih Pilihan Kedua, Yaitu
Melarikan Diri Ke Jeddah. Kemudian, Pasukan Saud Segera Masuk Ke Kota
Mekah Untuk Kemudian Menguasainya Tanpa Perlawanan Sedikit Pun.

Tepat Pada Waktu Fajar, Muharram 1218 H, Kota Suci Mekah Sudah Berada
Di Bawah Kekuasaan Muwahidin Sepenuhnya. Seperti Biasa, Pasukan
Muwahidin Sentiasa Mengutamakan Sasarannya Untuk Menghancurkan Patung-
Patung Yang Dibuat Dalam Bentuk Kubah Di Perkuburan Yang Dianggap
Keramat, Yang Semuanya Itu Boleh Mengundang Kemusyrikan Bagi Kaum
Muslimin.Maka Semua Lambang-Lambang Kemusyrikan Yang Didirikan Di
Atas Kuburan Yang Berbentuk Kubah-Kubah Masjid Di Seluruh Hijaz,
Semuanya Diratakan, Termasuk Kubah Yang Didirikan Di Atas Kubur
Khadijah R.A, Isteri Pertama Nabi Kita Muhammad SAW.

Bersamaan Dengan Itu Mereka Melantik Sejumlah Guru, Da’i, Mursyid
Serta Hakim Untuk Ditugaskan Di Daerah Hijaz. Selang Dua Tahun
Setelah Penaklukan Mekah, Pasukan Imam Saud Bergerak Menuju Madinah.
Seperti Halnya Di Mekah, Madinah Pun Dalam Waktu Yang Singkat Saja
Telah Dapat Dikuasai Sepenuhnya Oleh Pasukan Muwahhidin Di Bawah
Panglima Putera Saud Bin Abdul Aziz, Peristiwa Ini Berlaku Pada Tahun
1220 H.

Dengan Demikian, Daerah Haramain (Mekah – Madinah) Telah Jatuh Ke
Tangan Muwahidin. Dan Sejak Itulah Status Sosial Dan Ekonomi
Masyarakat Hijaz Secara Berangsur-Angsur Dapat Dipulihkan Kembali,
Sehingga Semua Lapisan Masyarakat Merasa Aman, Tenteram Dan Tertib,
Yang Selama Ini Sangat Mereka Inginkan.

Walaupun Sebagai Sebuah Daerah Yang Ditaklukan, Keluarga Saud
Tidaklah Memperlakukan Rakyat Dengan Sesuka Hati. Keluarga Saud
Sangat Baik Terhadap Rakyat Terutama Pada Kalangan Fakir Miskin Yang
Mana Pihak Kerajaan Memberi Perhatian Yang Berat Terhadap Nasib
Mereka. Dan Tetaplah Kawasan Hijaz Berada Di Bawah Kekuasaan
Muwahidin (Saudi) Yang Dipimpin Oleh Keluarga Saud Sehingga Pada
Tahun 1226 H.

Setelah Delapan Tahun Wilayah Ini Berada Di Bawah Kekuasaan Imam
Saud, Pemerintah Mesir Bersama Sekutunya Turki, Mengirimkan
Pasukannya Untuk Membebaskan Tanah Hijaz, Terutama Mekah Dan Madinah
Dari Tangan Muwahidin Sekaligus Hendak Mengusir Mereka Keluar Dari
Daerah Tersebut.

Adapun Sebab Campurtangan Pemerintah Mesir Dan Turki Itu Adalah
Seperti Yang Telah Dikemukakan Pada Bahagian Yang Lalu, Yaitu Karena
Pergerakan Muwahidin Mendapat Banyak Tantangan Dari Pihak Musuh-
Musuhnya, Bahkan Musuh Dari Pihak Dalam Islam Sendiri Apalagi Dari
Luar Islam, Yang Bertujuan Sama Yaitu Untuk Mematikan Dan Memadamkan
Api Gerakan Dakwah Salafiyyah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab.

Oleh Karena Musuh-Musuh Gerakan Salafiyyah Tidak Mempunyai Kekuatan
Yang Memadai Untuk Menentang Pergerakan Wahabiyah, Maka Mereka
Menghasut Pemerintah Mesir Dan Turki Dengan Menggunakan Nama Agama,
Seperti Yang Telah Diterangkan Pada Kisah Yang Lalu. Akhirnya Pasukan
Mesir Dan Turki Menyerbu Ke Negeri Hijaz Untuk Membebaskan Kedua Kota
Suci Mekah Dan Madinah Dari Cengkaman Kaum Muwahiddin, Sehingga
Terjadilah Peperangan Di Antara Mesir Bersama Sekutunya Turki Di Satu
Pihak Melawan Pasukan Muwahidin Dari Najd Dan Hijaz Di Pihak Lain.
Peperangan Ini Telah Berlangsung Selama Tujuh Tahun, Yaitu Dari Tahun
1226 Hingga 1234 H.

Dalam Masa Perang Tujuh Tahun Itu Tidak Sedikit Kerugian Yang Dialami
Oleh Kedua Belah Pihak, Terutama Dari Pihak Pasukan Najd Dan Hijaz,
Selain Kerugian Harta Benda, Tidak Sedikit Pula Kerugian Nyawa Dan
Korban Manusia. Tetapi Syukur Alhamdulillah, Setelah Lima Tahun
Berlangsung Perang Saudara Di Antara Mesir-Turki Dan Wahabi, Pihak
Mesir Maupun Turki Sudah Mulai Jemu Dan Bosan Menghadapi Peperangan
Yang Berkepanjangan Itu. Akhirnya, Secara Perlahan-Lahan Mereka Sedar
Bahwa Mereka Telah Keliru, Sekaligus Mereka Menyadari Bahwa
Sesungguhnya Gerakan Wahabi Tidak Lain Adalah Sebuah Gerakan Aqidah
Murni Dan Patut Ditunjang Serta Didukung Oleh Seluruh Umat Islam.

Dalam Dua Tahun Terakhir Menjelang Selesainya Peperangan, Secara Diam-
Diam Gerakan Muwahidin Terus Melakukan Gerakan Dakwah Dan Mencetak
Kader-Kadernya Demi Penerusan Gerakan Aqidah Di Masa-Masa Akan
Datang. Berakhirnya Peperangan Yang Telah Memakan Waktu Tujuh Tahun
Tersebut, Membikin Dakwah Salafiyyah Mulai Lancar Kembali Seperti
Biasa.

Semua Kekacauan Di Tanah Hijaz Boleh Dikatakan Berakhir Pada Tahun
1239 H. Begitu Juga Dakwah Salafiyyah Telah Tersebar Secara Meluas
Dan Merata Ke Seluruh Pelusuk Najd Dan Sekitarnya, Di Bawah
Kepemimpinan Imam Turki Bin `Abdullah Bin Muhammad Bin Saud, Adik
Sepupu Amir Saud Bin `Abdul `Aziz Yang Disebutkan Dahulu.

Semenjak Kekuasaan Dipegang Oleh Amir Turki Bin `Abdullah, Suasana
Najd Dan Sekitarnya Berangsur-Angsur Pulih Kembali, Sehingga
Memungkinkan Bagi Keluarga Saud (Al-Saud) Bersama Keluarga Syeikh
Muhammad (Al-Syeikh) Untuk Melancarkan Kembali Dakwah Mereka Dengan
Lisan Dan Tulisan Melalui Juru-Juru Dakwah, Para Ulama Serta Para
Khutaba.

Suasana Yang Sebelumnya Penuh Dengan Huru-Hara Dan Saling Berperang,
Kini Telah Berubah Menjadi Suasana Yang Penuh Aman Dan Damai
Menyebabkan Syiar Islam Kelihatan Di Mana-Mana Di Seluruh Tanah
Hijaz, Najd Dan Sekitarnya. Sedangkan Syi’ar Kemusyrikan Sudah Hancur
Diratakan Dengan Tanah. Ibadah Hanya Kepada Allah, Tidak Lagi Ke
Perkuburan Dan Makhluk-Makhluk Lainnya. Masjid Mulai Kelihatan
Semarak Dan Lebih Banyak Dikunjungi Oleh Umat Islam, Dibanding Ke
Maqam-Maqam Yang Dianggap Keramat Seperti Sebelumnya.

Khususnya Daerah Hijaz Dengan Kota Mekah Dan Madinah, Begitu Lama
Terputus Hubungan Dengan Kerajaan (Daulah) Saudiyah, Yaitu Semenjak
Perlanggaran Mesir Dan Sekutunya Pada Tahun 1226 -1342, Yang Bererti
Lebih Kurang Seratus Duapuluh Tujuh Tahun Wilayah Hijaz Terlepas Dari
Tangan Dinasti Saudiyah. Dan Barulah Kembali Ke Tangan Mereka Pada
Tahun 1343 H, Yaitu Di Saat Daulah Saudiyah Dipimpin Oleh Imam `Abdul
`Aziz Bin `Abdurrahman Bin Faisal Bin Turki Bin `Abdullah Bin
Muhammad Bin Saud, Cucu Keempat Dari Pendiri Dinasti Saudiyah, Amir
Muhammad Bin Saud Al-Awal.

Menurut Sejarah, Setelah Mekah – Madinah Kembali Ke Pangkuan Arab
Saudi Pada Tahun 1343, Hubungan Saudi – Mesir Tetap Tidak Begitu Baik
Yang Mana Tidak Ada Hubungan Diplomatik Di Antara Kedua Negara
Tersebut, Meskipun Kedua Bangsa Itu Tetap Terjalin Ukhuwah Islamiyah.
Namun Setelah Raja Faisal Menaiki Tahta Menjadi Ketua Negara Saudi,
Hubungan Saudi – Mesir Disambung Kembali Hingga Kini.

Wafatnya

Muhammad Bin `Abdul Wahab Telah Menghabiskan Waktunya Selama 48 Tahun
Lebih Di Dar’iyah. Keseluruhan Hidupnya Diisi Dengan Kegiatan
Menulis, Mengajar, Berdakwah Dan Berjihad Serta Mengabdi Sebagai
Menteri Penerangan Kerajaan Saudi Di Tanah Arab.

Dan Allah Telah Memanjangkan Umurnya Sampai 92 Tahun, Sehingga Beliau
Dapat Menyaksikan Sendiri Kejayaan Dakwah Dan Kesetiaan Pendukung-
Pendukungnya. Semuanya Itu Adalah Berkat Pertolongan Allah Dan Berkat
Dakwah Dan Jihadnya Yang Gigih Dan Tidak Kenal Menyerah Waktu Itu.

Kemudian, Setelah Puas Melihat Hasil Kemenangannya Di Seluruh Negeri
Dar’iyah Dan Sekitarnya, Dengan Hati Yang Tenang, Perasaan Yang Lega,
Muhammad Bin `Abdul Wahab Menghadap Tuhannya. Beliau Kembali Ke
Rahmatullah Pada Tanggal 29 Syawal 1206 H, Bersamaan Dengan Tahun
1793 M, Dalam Usia 92 Tahun. Jenazahnya Dikebumikan Di Dar’iyah
(Najd). Semoga Allah Melapangkan Kuburnya, Dan Menerima Segala Amal
Solehnya Serta Mendapatkan Tempat Yang Layak Di Sisi Allah SWT. Amin.

Published in: on at 9:05 am Leave a Comment

Ibnu Taimiyah

Nama lengkap beliau adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali, yang lahir pada hari Isnin, 10 Rabiul Awwal 66l H. (22 Januari 1263 M) di Harran. Ayah beliau adalah seorang alim ahli agama, seorang besar dalam bidang agama Islam, iaitu Syihabuddin Abu Ahmad Halim Ibnu Taimiyah. Ayah beliau ini adalah seorang Imam Muhaqqiq yang banyak ilmunya, meninggal tahun 681H Neneknya adalah Syeikhul Islam, Majduddin Abul Barakat Abbas Salam Ibnu Taimiyah, seorang Hafiz Hadith yang ternama.

Kerana diburu oleh bangsa Monggol, maka ayah beliau pindah ke Damaskus dengan seluruh keluarganya. Di Damaskus itulah beliau mempelajari agama Islam, yang ternyata sebagai anak yang cerdas. Guru beliau antara lain adalah ulama besar yang bernama Zainuddin Abdul Daim Al-Mukaddasi, Najmuddin Ibnu Asakir, dan seorang ulama perempuan terkenal, Zainab binti Makki, dan sebagainya yang lebih dari seratus guru lagi banyaknya.

Beliau kuat ingatan, cepat hafal, lekas faham, dan tidak bosan membaca serta tidak pernah beristirehat di dalam menambah ilmu, juga dalam perjuangannya.

Setelah ayah beliau meninggal dunia, beliau menggantikan ayah beliau mengajarkan ilmu fiqh dalam mazhab Hambali dan dalam ilmu tafsir. Pada tahun 691H. (1292 M) beliau pergi haji, dan di Kota Makkah beliau bertemu dengan ramai ulama besar. Ramai ulama yang beliau tinggalkan namanya kerana salah dalam sesuatu debat dan pendapat di dalam masalah hukum.

Itulah Ibnu Taimiyah, ulama besar yang merengkuk dalam penjara Mesir. Baru saja beliau bebas dari penjara, kemudian ditangkap lagi dan dipenjarakan yang kedua kalinya selama setengah tahun lagi. Sebabnya kerana beliau menulis sebuah kitab yang isinya tentang masalah ketuhanan yang tidak disetujui oleh para ulama. Di dalam, penjara yang hanya setengah tahun itu beliau berhasil menginsafkan banduan yang merengkok bersama beliau sehingga semua yang insaf itu menjadi pendukung beliau dan menjadi pengikut yang setia. (Ada sumber yang mengatakan bahawa di penjara yang kedua ini selama satu setengah tahun lagi lamanya).

Adapun isi kitab yang menyebabkan beliau di penjara yang kedua itu adalah beliau menentang ajaran Tasawwuf Ittihadiyah yang menyatakan bahawa Allah boleh hulul (bertempat) dalam tubuh makhluk. Jelasnya kepercayaan hulul ialah kepercayaan bahawa Allah bersemayam dalam tubuh salah seorang yang memungkinkan untuk itu kerana kemurnian jiwanya atau kesucian rohnya. Adapun kepercayaan ittihad (Al-lttihad) ialah kepercayaan tentang Allah yang dapat bersatu dengan manusia. Apabila telah terjadi ittihad, maka orang yang bersangkutan tak sedar diri.

Hal ini mereka namakan makwu, atau sampai kepada tingkat lenyapnya zat yang fana dengan Zat Allah yang baqa. Kalau sudah sampai tingkat yang begini, maka segala yang diucapkan tidak terkena hukum syirik walaupun pada zahirnya syirik, kerana orang yang mengucapkan itu sedang dalam keadaan sukar atau mabuk kepayang. Di antara kaum sufi dan Guru Thariqat mempercayai melancarkan faham ini adalah Umar Ibnul Faridh dan Ibnu ‘Ath’allal.

Itulah faham sesat yang beliau tentang, tetapi beliau bahkan di penjara selama satu setengah tahun di Syam. Baru beberapa hari keluar dari penjara yang kedua, ia ditangkap lagi dan dipenjarakan selama lapan bulan lamanya di Aleksandria, kerana fatwa beliau pula yang tidak sesuai dengan faham para ulama.

Keluar dari penjara Aleksandria, beliau dipanggil oleh Sultan Nashir Qalaun untuk memberikan fatwa di muka umum. Sebabnya sampai sikap sultan demikian ialah kerana sultan senang terhadap sifat terus-terang beliau. Beliau bersedia memberikan fatwa atau ceramah di muka umum, dan ternyata fatwa beliau itu menggemparkan para ulama yang bermazhab Syafi’e, namun beliau tetap dikasihi oleh Sultan. Bahkan beliau mendapat tawaran menjadi professor pada sebuah Sekolah Tinggi yang didirikan oleh Putera Mahkota.

Dalam tahun 1313 beliau diminta untuk memimpin peperangan lagi ke Syiria. Beliau diangkat menjadi professor lagi dalam sebuah Sekolah Tinggi, tetapi pada bulan Ogos 1318 beliau dilarang mengeluarkan fatwa oleh Penguasa, padahal fatwa-fatwa beliau itu diperlukan umat saat itu. Dengan diam-diam para murid beliau mengumpulkan fatwa-fatwa beliau yang cemerlang itu dan berhasil dibukukan, kemudian dicetak, yang bernama “Fatwa Ibnu Taimiyah” Alangkah sedih hati rakyat yang ternyata masih ramai yang mencintai beliau.

Mereka tetap mendatangi beliau minta fatwa-fatwa, terlebih lagi rakyat baru lepas rindunya terhadap beliau yang baru pulang ke Kota Damsyik yang beliau tinggalkan selama lebih dari tujuh tahun, dalam waktu itu beliau hidup dari penjara ke penjara.

Beberapa waktu kemudian beliau ditangkap lagi dan dipenjarakan yang keempat kalinya selama lima bulan lapan hari.

Demikianlah hidup beliau, dari penjara ke penjara. Semua perkara yang dijadikan masalah telah beliau keluarkan fatwanya. Soal talak tiga di dalam satu majlis hanya satu yang jatuh, tentang beliau melarang berziarah ke Masjid atas kubur keramat kecuali Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dan Baitul Muqaddis di Jerusalem. Juga sekitar masalah keTuhanan dan memurnikan ajaran Islam, mengamalkan ibadah yang murni menurut faham yang terdahulu, iaitu faham salaf. Juga masalah syirik dan bid’ah yang membahayakan akidah Islam beliau tentang, agar Islam kembali kepada kemurniannya seperti zaman salaf.

Yang terakhir beliau ditangkap lagi atas perintah Sultan dalam bulan Sya’ban 726 H. (Julai 1326 M) dan kemudian dipenjarakan yang kelima kalinya selama 20 bulan. Kali ini kamar tahanannya amat sempit dan bertembok tebal. Dalam kamar tahanannya itu beliau tetap menulis, kerana menulis itu yang membawa kebahagiaan bagi beliau. Beliau dilarang berfatwa kemudian menulis, bahkan isi tulisannya sangat bagus.

Maka walaupun beliau hidup dalam lingkungan tembok penjara yang tebal, tetapi hati beliau tidak sedih dan tidak pula gundah. Dalam penjara inilah beliau berkata yang kemudian terkenal sampai sekarang, iaitu: “Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”

Setelah petugas tahu bahawa beliau dalam penjara terus menulis, maka semua kitab dan alat-alat tulis beliau dirampas dan dikeluarkan dari kamar penjara. Itulah hukuman yang paling kejam bagi beliau. Keadaan ini beliau terima dengan hati sedih dan bercucuran air mata.

Dalam penjara terakhir ini beliau bersama dengan para murid beliau yang juga dimasukkan dalam tahanan. Namun semua pengikut beliau yang ditahan itu telah dibebaskan, kecuali seorang murid beliau yang paling setia yang masih menyertai beliau dalam penjara, iaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691-751H).

Setelah tidak boleh menulis lagi, beliau pun mengambil kitab suci Al-Quran yang tidak ikut dirampas. Beliau baca Al-Quran itu sampai penat, kemudian berzikir dan solat, membaca Al-Quran lagi bertilawat, kemudian solat dan berzikir. Demikianlah yang beliau kerjakan, sehingga sejak beliau tidak boleh menulis telah menamatkan (mengkhatamkan) membaca Al-Quran 80 (lapan puluh kali).

Dan ketika beliau membaca akan masuk ke 81 kalinya, tetapi ketika sampai kepada ayat yang ertinya,” … Sesungguhnya orang yang muttaqin itu akan duduk di dalam syurga dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, di dalam kedudukan yang benar, pada sisi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa.” Beliau pun tidak dapat meneruskan bacaannya lagi, kerana jatuh sakit selama 20 hari.

Saat itu beliau telah berusia 67 tahun, dan telah merengkuk dalam penjara yang terakhir itu selama lebih dari 20 bulan lamanya, dan ketika itu sakit beliau semakin bertambah. Orang ramai tidak mengetahui bahawa beliau dalam keadaan sakit, kerana yang mengurus diri beliau hanyalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah muridnya yang setia. Baru setelah muadzin berseru dari atas menara bahawa beliau telah pulang ke rahmatullah, berduyun-duyun orang mengerumuni gerbang penjara.

Ramai orang yang terisak menangis dan meratapi kematian beliau. Juga ramai orang yang ingin mengambil berkah dari hanya melihat wajah beliau, memegang jenazah beliau dan bahkan ada yang mencium beliau.

Beliau meninggal dunia hari Isnin, 20 Zul Kaedah 728 H. (26-28 September 1328 M), dalam usia 67 tahun, setelah sakit dalam penjara lebih dari 20 hari. Beliau menghembuskan nafas yang terakhir di atas tikar solatnya, sedang dalam keadaan membaca Al-Quran.

Walaupun begitu beliau seorang yang banyak dibenci terutama oleh mereka yang bermazhab Syafi’e, tetapi jenazah beliau diiringkan ke pusara oleh 200,000 orang lelaki dan 15,000 orang wanita.

Demikianlah akibat yang dialami oleh beliau dalam memperjuangkan kebenaran, demi tegaknya agama Islam di atas dunia.

Published in: on at 9:01 am Leave a Comment

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Biografi
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Beliau adalah seorang imam salafi, hujjah atsari, mujtahid, faqih, tsabat, da’i besar. Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Abdurrahman Aali Baz, dilahirkan di kota Riyadh pada bulan Dzulhijjah tahun 1330 H. Beliau menderita sakit mata sehingga lemah penglihatannya pada tahun 1346 H. Kemudian matanya menjadi buta pada tahun 1350 h. Tetapi Allah menggantinya dengan kepandaian yang luas dalanm agama serta kesempurnaan rasa ridha dan kepasrahan kepada rabb semesta alam.

Sudah dimaklumi oleh setiap orang yang memperhatikan, bahwa syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah seorang yang luas ilmunya, penuh kebijaksanaan, banyak karya-karyanya, penuh kegiatannya, sangat tekun, tidak lemah, tidak lesu dan tidak bosan. Selalu berdzikir kepada Allah, baik akhlaknya, tawadhu’, sangat takut kepada Allah, banyak memerintahkan kebaikan dan banyak melarang kemungkaran. Berda’wah kepada Allah dengan ilmu, tegas terhadap ahli bid’ah, sangat ingin memurnikan tauhid, tidak meninggalkan suatu kesempatan pemurnian tauhid kecuali dipergunakannya dengan memerangi syirik dengan berbagai macamnya. Tidak menjumpai celaan orang yang mencela agama dan sunnah kecuali beliau segera cepat membantahnya dan menyangkal dengan menggunakan ilmu dan hikmah, bukan sekadar dengan semangat dan emosi. Oleh karena itu hati-hati telah bersatu untuk mencintainya dan akal sehat telah berkumpul untuk menghormatinya dan memuliakannya .

Beliau mulai belajar dan mencari ilmu sejak kecil, telah hafal al-Qur’an sebelum baligh, mengambil ilmu-ilmu agama dan bahasa arab sejak kecil dari sejumlah ulam-ulama besar Nejed dan lain-lain. Diantaranya Syeikh Abdul Aziz Aali, Syaikh Sa’ad bin Hamad bin Atiq, Hakim di kota Riyah, Syaikh Hamad bin Faris, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aali, dan yang terakhir ini adalah guru beliau yang utama dan yang terbesar.

JABATAN-JABATAN YANG PERNAH DIDUDUKINYA
Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah menduduki jabatan-jabatan ilmiyah yang tinggi diantaranya:
Jabatan qadhi di kota Kharj tahun 1357 H.
Diangkat sebagai guru di Ma’had Ilmi di Riyadh tahun 1372 H dan guru di kuliyah Syari’ah tahun 1373 H.
Diangkat sebagai na’ib rais (wakil rektor) Jami’ah Islamiyah di Medinah pada tahun 1381 H.
Diangkat sebagai rektor Jami’ah Islamiyah dpada tahun 1390 h.
Diangkat sebagai mufti umum di Kerajaan Arab Saudi .

Disamping jabatan-jabatan tersebut beliau juga menjadi:
Anggota Haiatu Kibari al-Ulama di Kerajaan Arab Saudi.
Pimpinan tertinggi Lembaga Masjid Sedunia.
Pimpinan al-Majma al-Fiqhi al-Islami yang bernaung di bawah Rabithah al-’Alami l-Islami.

Serta masih ada lagi jabatan lain yang beliau pegang.

KARYA-KARYA BELIAU
Beliau banyak menulis buku-buku yang bermanfaat,demikian pula dengan ceramah-ceramah dan pembicaraan-pembicaraanya melalui surat-surat kabar dan media siaran lainnya. Karya-karya beliau yang masyhur diantaranya:
At-Tahqiqu wal-Idhahu li Katsirin min masaili al-Hajji wa az-Ziarah.
At-Tahdziru min al-Bida’.
Risalatani fi az-Zakat wa ash-Shiyam.
Al-qidatu ash-Shahihah wa ma Yudhaadduha
Wujubul-’Amali bi Sunnatir-Rasul wa Kufru man Ankaraha.
Al-Fawaid al-Jaliyyah min al-Mabahits al-Fardhiyah.
Ad-Da’wah ilallah wa Akhlak ad-Du’at.
Wujubu Tahkimi Syar’illah wa nabdzu ma Yukhalifuhu.
Hukmu as-Sufur wa al-Hijab wa Nikah asy-Syighar.
Naqdhul-Qaumiyyah al-Arabiyyah.
Al-Jawabul Mufid fi Hukmit-Tashfir.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : Da’watuhu wa Shiratuhu.
Tsalatu ar-Rosail fish-Sholat.
Hukmu Islam fiman Thaa’ana fi al-Qur’an, wa fi rosulillah.
Hasyiyah ‘ala Ajzai min Kitab : Fathil Bari Syarah al-Bukhari.
Iqamatil barahin ‘ala Hukmi man Istaghatsa bi Ghairillah au Shaddaqa al-Kahanata wal-’Arraafin.
Al-Jihad fi Sabilillah.
Al-Durus al-Muhimmah li-’Aammatil -Ummah.
Majmu’ al-Fatawa hingga sekarang telah terbit delapan jilid.

Published in: on at 4:38 am Comments (1)